Secangkir keterlupaan, seseruput kepikunan

Menulis itu membantu otak menata pikiran, bertutur dalam rentetan kata yang bisa saya pahami saat saya baca.

▒ Lama baca 2 menit

Wedang kopi dan French press — Blogombal.com

Dari teras saya kembali ke dapur. Lalu berdiri termangu. Saat berbalik badan di teras, setelah menaruh French press, dan menggerakkan kaki menuju dapur, saya tahu akan melakukan apa. Namun sesampai tujuan, hanya sejauh belasan langkah, saya lupa akan melakukan apa.

Asisten rumah yang sedang menyapu memperhatikan saya dan bertanya, “Mau ngapain, Pak?”

Saya pun segera teringat niat. Saya akan mengambil cangkir kaca untuk kopi yang barusan saya buat. Saya menyukai cangkir gelas karena warna kopi terlihat. Tergantung kopinya, kadang ada yang kekuningan serupa teh. Lain waktu ada yang cokelat gelap.

Ada dua soal. Lupa dan pikun. Untuk yang pertama, lupa akan melakukan apa, lalu kembali ingat setelah kembali ke titik berangkat, saya alami sejak kecil. Tidak sering, ketika dulu Ibu menyuruh saya ke warung sebelah rumah maka setiba saya di tujuan saya lupa harus membeli apa. Lalu saya kembali ke rumah. Baru sampai halaman saya sudah teringat perincian tugas dari Ibu.

Hatta, saya menganggap keterlupaan akan cangkir kopi bukanlah masalah karena saya jalani sejak kecil. Di kantor pun dulu sesekali begitu. Setiba di meja sekretaris, bahkan saat masuk ke ruang BOD, saya lupa sampai termangu sehingga ditanya.

Saya selalu tenang saat menghadapi hal macam itu karena yakin orang lain juga mengalami. Ada tahap kecil tipis singkat yang terlompat saat pembacaan ruang simpan memori. Namun defragmentasi alami dalam benak menjadikan pembacaan ulang serpihan memori lebih cepat.

Tamsil saya barusan merujuk barang usang bernama hard disk berlengan aktuator. Atau kalau yang lebih mudah dibayangkan adalah mata optical pickup unit membaca CD.

Perihal keterlupaan tadi adalah soal pertama. Adapun kepikunan, yang akan saya celotehkan, adalah soal kedua. Sejauh bertaut dengan kopi saat ini saya ingat biji kopi yang saya pilih, dari siapa, tinggal berapa dalam kantong tegak berpenjepit. Itulah kopi yang oleh produsen diklaim sebagai robusta highland blend, gabungan dari Jateng dan Jatim. Adapun klaim karakter sweet, fruity, dan flowery taste tak terasa. Saya lebih merasakannya earthy.

Lalu? Abaikanlah paparan tadi. Lain waktu esok jika saya membuat kopi yang sama, begitu pun dari kantong lain yang arabika, Bajawa single origin, ada manis tipis dan rasa cokelat ringan, saya akan lupa pernah menikmatinya. Itulah yang saya anggap kepikunan. Namun saya menganggap hal itu tak terhindarkan. Serupa pemeo lupa nama ingat rasa — apa pun asosiasi dalam pikiran Anda.

Sebenarnya sampai usia berapa ingatan orang tetap terawat? Asumsi yang berlaku saat ini, masa emas kemampuan menyerap informasi baru itu usia 18 hingga 25. Maka berbahagialah orang melek aksara yang pada masa mudanya senang membaca dan menulis. Titik stabil mulai usia 35–40.

Mulai usia 40 volume otak menyusut, konon dua persen setiap dekade, sehingga akses terhadap memori pun melambat. Namun bagi orang yang terbiasa berolah kata — yakni membaca, menulis, mendengarkan siniar sandiwara, ketoprak, dan wayang kulit sampai menonton film padat dialog — kecerdasan kristalnya tetap terjaga selama rentang usia 60–75.

Dalam kecerdasan kristal terkandung pengetahuan akumulatif, antara lain kosakata dan pengetahuan umum. Menulis di grup WhatsApp atau Facebook, begitu pun ngobrol dengan orang lain, membantu merawat kecerdasan kristal.

Akan tetapi setelah usia 60, sekira 40 persen orang secara alami akan mengalami kehilangan ingatan. Setidaknya menurut Alzheimer Research Association (2025) begitu.

Lalu rujukan saya membual tadi dari mana saja? Banyak. Sebagian saya lupa merunut ulang ke belakang, sehingga tak perlu Anda percaya. Silakan Anda cari sendiri rujukannya.

Lalu kenapa dari soal cemen lupa ambil cangkir saya jadikan tulisan ngayawara?

Saya ngeblog untuk olah benak, merawat kesadaran dan ingatan selagi sanggup. Menulis itu membantu otak menata pikiran, bertutur dalam rentetan kata yang bisa saya pahami saat saya baca. Syukurlah jika Anda juga dapat mencerna tulisan saya.

Sekarang isi French press sudah tandas. Dari aplikasi Jetpack dalam ponsel saya tinggal klik publish.

2 Comments

Junianto Sabtu 11 April 2026 ~ 06.40 Reply

Tiap hari, di rumah, saya lupa di mana nyelehke kacamata, ponsel, kunci motor.

Mestinya kaca mata dan ponsel saya taruh di dekat TV atau di meja yang ada laptopnya, kunci motor diselehke di atas mobil dalam garasi (yang mobilnya sangat jarang dipakai) tapi tetap saja tiap hari saya tidak naruh di tempat-tempat semestinya itu🙈

Pemilik Blog Sabtu 11 April 2026 ~ 21.38 Reply

Tenang, Lik Jun. Itu lumrah.
Makanya saya sekarang masang kalung untuk kacamata baca. Jaminan aman? Nggak. Beberapa kali saya keluar rumah pakai kacamata baca lalu sadar kok pemandangan jadi blur semua. Maka harus balik ke rumah, tukar kacamata.

Tinggalkan Balasan