Citra Indonesia dalam gentengisasi

Anggaran cupet, apakah gentengisasi sebagai impian yang akan diwujudkan masih relevan?

▒ Lama baca < 1 menit

“Oom, jaman anggaran mepet, padahal nggak bisa ternak babi ngepet, apa-apa mahal, eh ada perang di Iran lagi, apa proyek gentingisasi masih jalan?” tanya Adi Mujair.

“Saya bukan pengusaha genteng. Tanya aja mereka, udah dapet order belum,” jawab Kamso.

“Misalnya nggak ada kencengin ikat pinggang, gentengisasi masih relevan nggak, Oom?”

“Buat yang punya gagasan yang masih.”

“Apa pentingnya?”

“Penting dong, bisa jadi semacam monumen yang diwariskan. Misalnya nih, sekali lagi misalnya lho, sungai-sungai juga ditutupi genteng kan monumental?”

“Untung cuma misal yang ngaco, Oom! Kocak! Hahaha! Kalo Gentengkali sih di Surabaya. Terus dari sisi komunikasi internasional gimana?”

“Maksudmu?”

“Dari sisi citra Indonesia?”

“Pertanyaanmu berat, Lé. Yang saya tahu cuma bayangin citra satelit akan merekam tahap demi tahap hasil gentengisasi, ada before dan after pake progress report. Lalu orang sejagat memonitor, tapi cuma orang yang iseng dan kurang kerjaan, pengin bandingin sama Tembok Besar Cina, apalagi ditambahi patung-patung prajurit terakota dalam posisi kasih hormat.”

“Keren atau lucu, Oom?”

“Bukan dua-duanya.”

“Yang lucu gimana?”

“Nggak ada, tapi ada yang tepat. Mestinya kalo lagi pidato jangan pake contoh orang bangun jembatan lalu orang yang duduk cuma komen terus. Kenapa nggak pake pake contoh orang ngganti genteng buat nutupin kali?”

Tinggalkan Balasan