
“Kasus serangan air keras ke Andrie Yunus kira-kira gimana ya, Oom?” tanya Hari Senen.
“Nggak tau. Tanya aja polisi,” sahut Kamso.
“Tapi kan udah dilimpahkan ke militer, Oom?”
“Ya sana tanya tentara, haaahhhemmm,” jawab Kamso sambil menguap, matanya basah
“Terus soal teror terhadap sejumlah aktivis yang mengawal kasus ini, bahkan sampe ke keluarganya?”
“Tugas negara untuk melindungi, antara lain melalui LPSK.”
“Maksud teror apa sebenarnya?”
“Supaya masyarakat takut. Tapi kalo masyarakat takut juga nggak salah. Lha wong terancam kok, Har.”
“Kalo ada orang yang kasih toleransi ke terorisme yang dilakukan aparat, kayak Pak Burhan Karung, berarti dia pro-militerisme?”
“Belum tentu. Maksud saya bisa ya, bisa nggak. Kalo ya, juga belum tentu pensiunan tentara, soalnya orang sipil juga bisa menoleransi teror, penculikan, dan sebangsanya. Bagi mereka, orang yang suka ngritik pemerintah harus siap berurusan dengan aparat. Kalo ada kejadian, mereka setengah nyukurin, bilang Hamdani Hartoyo, dikandhani gak percoyo….”
“Maaf, Oom Kam termasuk yang mana?”
“Saya nggak menenggang teror, penculikan dan sebangsanya, tapi saya juga takut dengan itu semua, gitu juga terhadap salah tangkap, salah sasaran, dan main kambing hitam. Saya bukan pemberani nan tegar.”
“Terus, gimana dong?”
“Kita liat aja perkembangannya, tapi inget gimana dan siapa yang dihukum dalam kasus Novel Baswedan, pembunuhan Munir maupun sebelumnya Marsinah, eh tambah pembunuhan wartawan Udin. Juga gimana anggota Tim Mawar yang menculik aktivis akhirnya cuma satu atau dua yang dipecat, yang lain banding, selamat, malah kariernya naik terus, ada yang jadi letjen lalu jadi dirjen. Siapa orang di atas yang paling bertanggung jawab selalu aman. Tim apa saja kalo melakukan teror kan ada yang kasih perintah.”
“Serem dan menyedihkan ya, Oom. Pasti bukan Indonesia macam ini yang dicita-citakan para bapak bangsa dulu.”
“Saya sih udah tua, nggak tau Indonesia macam apa yang akan dijalani anak dan cucu saya nantinya.”
“Sejarah selalu berulang ya, Oom?”
“Kalo saya jawab ya sana tanya guru sejarah, situ pasti bilang saya suka ngeles.”
“Soalnya Oom penakut.”
