
Malam itu, pekan lalu, setelah kalian menyiramkan air keras ke tubuh dan wajah Andrie Yunus, perasaan apa yang mengalir dalam diri kalian?
Setelah melapor kepada pemberi order, dan menyaksikan rekaman CCTV, apa yang kalian perbincangkan?
Apa yang menjadi alasan kalian melakukan pasti sudah kalian sepakati bersama jika kelak kalian tertangkap, dalam arti bukan salah tangkap.
Rakyat tak lupa, dalam kasus penyiram air keras terhadap Novel Baswedan, butuh waktu dua setengah tahun bagi hamba hukum untuk menangkap mereka.
Begitu mudah kedua pelaku dalam sidang mengaku alasan penyiraman karena sakit hati dan dendam terhadap Novel yang mengkhianati korps. Apakah polisi busuk yang melakukan korupsi hingga membunuh pengawal, bukan pengkhianat korps?
Mereka kini pasti sudah bebas karena vonis berkekuatan tetap pada 2020 hanya berupa kurungan dua tahun dan satu setengah tahun. Tetapi cacat mata Novel akibat tindakan mereka hingga hari ini.
Kalian pasti memetik pelajaran dari kasus pelaku Novel, bukan pada nestapa yang mendera Novel. Rakyat merasakan ada yang melindungi mereka namun tak ada perlindungan untuk rakyat yang kritis dan berhati nurani.
Jika kelak hukuman untuk kalian yang menyiram Andrie lebih berat dari risiko yang disepakati sebelum eksekusi, apakah kalian berhak menyebut diri telah dikorbankan, tetapi ketika melakukan penyiraman itu kalian mematikan hati nurani, bahkan sejak perencanaan?
Apakah kalian sudah memperhitungkan perasaan keluarga kalian, terutama ibu kalian, dan jika kalian sudah kawin adalah perasaan istri kalian, bahkan anak kalian, karena yang kalian kerjakan bukanlah laku johan yang membanggakan mereka?

2 Comments
gila sih ini gila
Orang gila gak bisa diminta bertanggung jawab