
Senang hati saya dapat medali emas berisi cokelat. Diameter hampir 8 cm. Beratnya entah, tulisan dalam kemasan terlalu cilik. Rasanya ya rasa Delfi. Seperti dalam dua pos sebelumnya di blog wagu ini, tahun 2011 dan 2018, saya membatin hal yang sama. Rupanya koin cokelat atau medali cokelat masih ada.

Kini saya membatin hal tambahan. Pertama: apakah anak-anak masih terkesan oleh cokelat gepeng bundar yang dibungkus gerenjeng? Ketika sudah lembek, cokelat macam ini merepotkan untuk dibuka. Jari anak celemot, baju baru Lebaran ternoda, lalu semut datang. Apalagi kalau cokelat meleleh jatuh ke sofa atau jok mobil.

Kedua: sekarang zaman AI, bikin gambar menyerupai foto medali atau koin cokelat, bahkan yang sebagian gerenjengnya sudah terkuak, untuk ucapan selamat Lebaran pun mudah. Bandingkan dengan likuran tahun silam, hanya orang yang piawai Photoshop dan sejenisnya yang dapat melakukan. Meskipun belum ada Photoshop, apalagi AI, sampul album Chicago X (1976) bukanlah foto cokelat asli.
Maka ada orang yang sudah jemu dengan gambar kreasi AI, kecuali kalau tak terlihat atau tak menanya layanan AI tentang keaslian, dan ada pula yang belum bosan. Sebagian yang jenuh malah menghargai foto biasa, wajar, tak perfek, hasil jepretan ponsel entry-level, maupun coretan tangan yang sembrono namun tampak humane.
Akan tetapi bukankah AI selain dapat menghasilkan aneka gaya menggambar, termasuk intaglio, juga dapat menghasilkan gambar ala sketsa cepat? Ya juga sih. Jangan-jangan nanti mata orang tak peduli. Yang penting enak dilihat atau tidak.




2 Comments
di sini, koin coklat ini biasanya muncul di perayaan yang melibatkan anak-anak.. paskah, natal, halloween, dan sebagainya..
Indonesia kan niru luar, karena dulu koin cokelat itu barang impor