
Di antara deru motor yang semuanya seperti terburu-buru, padahal jam buka puasa sudah lama berlalu, saya mendengar suara tuplak klinting tapal kuda menyentuh jalan beton disertai gaung giring-giring bergoyang dari arah belakang.
Saya terus mengayunkan langkah. Tak menengok ke belakang. Saya tahu itu suara ladam dan kelintingan. Tadi, menjelang pukul tujuh malam, pasti kuda, delman, dan kusirnya pulang ke arah timur. Mungkin ke wilayah Jatiasih, Kobek, Jabar.
Saya tak perlu menoleh arah suara yang saya tahu akan menyalip saya. Secara untung-untungan saya rogoh ponsel dari saku celana. Klik. Delman terabadikan setelah mendahului Saya. Lihatlah foto pertama di atas. Delman dengan empat tirai jambon yang tak pernah direntangkan.

Kemarin-kemarin rasanya tak ada delman. Setelah THR Lebaran mulai diterima banyak orang, delman kembali beredar. Hanya untuk menghibur anak-anak dalam putaran dekat. Nanti pas Lebaran biasanya juga. Anak-anak akan naik. Saya tak tahu berapa ongkosnya sekarang. Apakah boleh Rp3.000 per anak?
Delman untuk hiburan. Bukan sebagai sarana angkutan penumpang dari satu titik ke titik lain seperti halnya ojek dan taksi, atau juga sebagian andong di Jogja untuk keperluan di luar pariwisata. Setahu saya delman tak termasuk dalam moda angkutan umum di Kobek dan tak membayar pajak yang dibuktikan dengan plombir atau pening seperti kelaziman di banyak daerah pada abad lalu.


2 Comments
saya tahu delman begini namanya Bendi, saat itu taunya cuma ada di seputaran stadion Manahan, Solo..
Ada yang nyebut bendi, ada yang nyebut sado. Di Lombok sebutannya cidomo dan benhur. Di Salatiga disebut dokar, roda dari kayu, diameter lebih gede, sebesar roda belakang andong Jogja.