
Kotak di samping pintu dalam toko kosmetik itu mengundang rasa ingin tahu saya. “Emang ada isinya?” saya membatin. Saya pun tergoda untuk melongok dan memotretnya.
Ternyata ada isinya, tak seperti kotak saran yang diisi sembarangan namun isinya tak pernah dikeluarkan — artinya tak ada petugas yang memeriksa. Kotak yang saya foto berisi kemasan bekas pakai.

Saya ingat, abad lalu hal ini dimulai oleh The Body Shop Indonesia, tetapi hanya untuk botol kaca pakai ulang dan isi ulang. Sedangkan toko yang menyediakan kotak sampah baterai, sejauh saya tahu hingga kini belum ada. Segala jenis baterai dan alat kecil yang berbaterai isi ulang, misalnya earphone TWS, saya buang di kotak sampah, sedangkan aki bekas dan kotak lampu darurat saya taruh di luar, pemulung akan mengambilnya.
Masalah lingkungan adalah masalah bersama. Harus ada ekosistem untuk mengatasinya. Percuma kita memilah tiga jenis sampah namun sampai TPA bercampur lagi karena pengelola, dalam hal ini pemerintah, mengandalkan aktor mekanisme sosial ekonomis bernama pemulung. Program komunal bank sampah di RT mencoba mencegat di depan.

Ada hal lain yang saya bagikan, untuk masa raya Paskah Sinode Gereja Kristen Jawa membuat tema ekologis, merawat dan memperbarui karunia Tuhan. Puasa personal tak sebatas mengerem asupan dan kenikmatan lain tetapi diperluas menjadi abstinensi komunal untuk lingkungan. Selalu ada panduan berupa gambar dan pesan di GKJ Pondok Gede agar menghemat air, listrik, bijak dalam menyampah, dan seterusnya.

2 Comments
kalo di sini, di supermarket ada kotak buat membuang baterai dan lampu (non-LED)..
Iya, saya pernah lihat. Di basement parkiran juga pernah saya lihat