Keheranan Bowo terhadap BUMN

Sebelum jadi presiden, dia pasti tahu banyak penyakit BUMN. Kalau soal MBG dan kerusakan lingkungan, entahlah.

▒ Lama baca < 1 menit

Keheranan Prabowo terhadap audit anak cucu BUMN — Blogombal.com

Seorang pemimpin tidak harus tahu segala urusan secara mendetail. Jangankan urusan negara, untuk perusahaan CV saja belum tentu juragan tahu semua masalah. Itulah perlunya bawahan yang cerdas, jujur, dan beretos kerja.

Lalu kalau Presiden Bowo heran bahkan kaget dengan anak cucu BUMN, termasuk dalam urusan audit oleh negara (BPK), bisa saja itu hanya ungkapan kegusaran. Aturan dari mana soal audit, tentu antara lain dari UU BUMN dan putusan MK. Pasti dia tahu.

Perihal perusahaan negara, apakah benar pemerintah yang mendirikan setelah merdeka, seperti Bowo berujar? Sebagian kompeni adalah hasil nasionalisasi perusahaan Belanda.

Di dalamnya termasuk bank pelat merah, pertambangan, industri farmasi (Kimia Farma, Biofarma, Indofarma), pabrik Gula, pabrik karung goni, pabrik kertas (Letjes, Padalarang), penerbit (Balai Pustaka, Pradnya Paramita, Ichtiar Baru), perdagangan (Pantja Niaga, Dharma Niaga, Satya Niaga, Kerta Niaga), penerbangan (Garuda), pelayaran (Pelni), galangan kapal, sepur, bus kota (PPD), pos, telekomunikasi, listrik, film (PFN), sampai perusahaan daerah air minum daerah.

Bahkan untuk bir juga. Kalau Heineken (Bir Bintang, oleh Multi Bintang) sempat dikuasai negara kemudian dikembalikan, sedangkan Delta Djakarta (Anker) menjadi milik Pemprov DKI.

Adapun perusahaan perkebunan negara, yang angka romawinya sampai sekian belas itu, dulunya milik Belanda. Menyangkut obat dahaga, beberapa BUMD pabrik es batu adalah warisan kolonial.

Perjalanan waktu menunjukkan banyak BUMN dan BUMD warisan Belanda tak sehat, tetapi konon sejak dulu gaji, tunjangan, dan tantiem direksi BUMN senantiasa afiat. Lalu ada reorganisasi dan restrukturisasi, menghasilkan merger bahkan penutupan.

BUMN identik dengan kelambanan gerak, kultur korporat tak beda dari amtenar. Public obligation menjadi pembenar sesat boleh inefisien dan rudin. Setidaknya dalam citra masa lalu demikian. Kerja di sana aman dan nyaman, lihat saja jejaknya dalam kompleks perumahan lama karyawan BUMN — apalagi rumah dinas level direksi.

Eric Thohir, ketika menjadi menteri BUMN pada 2023, dalam pidato saat menerima gelar doktor honoris causa di Unibraw, Malang, Jatim, bilang akan menjadikan BUMN sebagai gajah yang bisa menari flamenko. Apakah kastanyetnya telah tersua? Semoga gajahnya tak tersapu banjir bandang seperti dalam bencana Sumatra.

6 Comments

Pemilik Blog Jumat 13 Maret 2026 ~ 15.20 Reply

Tapi dia gak heran sama rakyat apalagi anak rakyat yang dapat MBG 🤭🫣

Zam Jumat 13 Maret 2026 ~ 13.37 Reply

rakyat juga heran terhadap pak bowo 🫣

Pemilik Blog Jumat 13 Maret 2026 ~ 03.22 Reply

Yah begitulah. Status kayak PNS tapi kesejahteraan melebihi partikelir pada zamannya. Dulu PNS kan berat.

mpokb Jumat 13 Maret 2026 ~ 01.59 Reply

The real beban negara, mbgmbgmbg. Perusahaannya rugi, tapi direksi dan karyawannya selalu tampak makmur.
Dulu zaman saya sekolah, sebagian anak SMP/SMA yg bawa mobil sendiri ke sekolah itu punya ortu pegawai BUMN pengelola SDA, Bang Paman

Tinggalkan Balasan