
Amatilah foto di atas. Serombongan karyawan yang akan makan siang di sebuah area kedai harus masuk celah satu per satu. Merepotkan. Apalagi jika berserobok. Celah pada pagar tembok lebih sempit daripada lintasan konblok.
Apa masalahnya? Jika mereka harus masuk melalui pintu untuk mobil akan jauh karena area makan itu luas. Sudah begitu pada akses masuk dan keluar mobil ada lajur pedestrian sempit pula.

Saya berharap ini hanya terjadi di Jabodetabek, bukan di seluruh Indonesia: akses pejalan kaki dibatasi. Itu terjadi di mal, apartemen, gedung perkantoran, dan rumah sakit. Tentu tak semua begitu.

Rupanya car-oriented development kawasan tetap menjadi mazhab. Saya pernah mencontohkan Sudirman Central Business District (SCBD) di dekat Semanggi, Jakarta. Ada trotoar sempit hanya untuk seorang.
Semua kepala daerah bisa berbusa ingin mengembangkan kawasan dengan trans-oriented development; tetapi apa artinya jika orang seturun dari angkutan umum, lalu menapaki trotoar lebar, akhirnya harus masuk jalan setapak untuk memasuki pelataran gedung?
Oke, bisa saja arsitek sudah merancang lajur pedestrian. Namun manajemen gedung, dengan bagian keamanan sebagai penanggung jawab, mempersempit akses pejalan kaki, antara lain dengan memasang patok.

Hal itu untuk mencegah sepeda motor maupun sepeda masuk lewat lajur pejalan kaki? Lha apa gunanya satpamwan bertugas 24 jam? Mereka digaji antara lain untuk menghardik orang ngeyel yang melanggar aturan.
Di lebih dari satu rumah sakit di Jabodetabek, saya dapati jarak antarpatok rapat. Orang berbadan lebih besar dari saya, gendut pula, untuk meloloskan badan sendiri secara menyamping pun sukar. Entah bagaimana dengan perempuan hamil.

Akses pejalan kaki ke apartemen juga bisa sempit. Tidak tepat jika manajemen berpengandaian orang yang membawa tas besar atau kardus gede harus kreatif menemukan cara untuk menembus patok. Misalnya badan melalui separuh lajur di kiri patok, dan bawaan masuk dari lajur di kanan patok. Nggak gitu, Bobi.
Saya tak tahu apakah DPRD pernah menyoal pencekikan lajur pejalan kaki, “secara” mereka adalah pengguna mobil pribadi, padahal dulunya mungkin juga pejalan kaki, lalu merasakan nikmatnya jadi pedestrian ketika di luar negeri, termasuk saat berstudi banting, karena sepulang dari mancanegara map laporan cuma dibanting.



2 Comments
jalan kaki adalah kemewahan kalo di Indo.. buktinya, banyak yang kalo jalan-jalan ke LN suka pamer jumlah langkah kaki..
ya gimana warga ga males jalan, kalo buat jalan aja ngga ada tempatnya 😅
Lha ya itu. Jalannya gak nyaman.
Kalo alasannya cuaca dan iklim kita panas, Singapura juga sama.