
Sudah lumrah jika gerbang kampung dan kompleks perumahan mengucapkan selamat datang melalui tulisan. Apakah ada perasaan positif dalam diri Anda karena disambut?
Di sisi lain, jika tanpa sambutan apakah perasaan Anda tak nyaman? Hal serupa berlaku untuk teks sambutan di toko dan kedai. Intinya apakah Anda terkesan dengan tulisan sambutan atau malah tak ambil peduli.
Ada juga yang bagian depan gerbang berisi selamat datang, kemudian sisi sebaliknya, dari dalam menuju ke luar, bertuliskan selamat jalan. Padahal yang paling sering lewat adalah warga. Adapun orang luar adalah penjual sayur dan penjual makanan minuman keliling, serta kurir paket dan tukang ojek plus sopir taksi.
Jadi tulisan selamat datang untuk apa, termasuk pada gerbang kota? Jangan-jangan kita tak menimbang dengan kritis. Cuma ikut arus saja. Seperti saat saya SMP membuat prakarya hiasan rumah dari kayu kemiri. Hampir semua anak memilih selamat datang, atau welcome, atau home sweet home.
Saya lupa bikin tulisan apa, pokoknya beda, dan guru saya tidak suka, sehingga dia memberikan nilai jelek. Guru gambar saya juga demikian. Pun guru bahasa Indonesia saya di SMA.

3 Comments
Di Purwodaddy, ada sebuah tugu kecil di pinggir jalan masuk suatu desa.
Awalnya bertuliskan “wellcome to XX”, lalu diubah menjadi “wel come” setelah ditegur oleh seorang guru.
Karena masih salah, setelah ditegur lagi, akhirnya malah diubah menjadi “well come” 😂
Saya terakhir melihatnya 10 tahunan yang lalu, entah hari ini masih ada atau tidak.
kalo tulisannya, “assalamualaikum” kepanjangan dan kesannya islam sekali. ditambahi “salam sejahtera untuk kita semua”, jadi terlalu panjang..
Tambah lagi ucapan semua yang sering jadi intro pidato supaya mewakili semua kayakinan yang diakui pemerintah — kecuali menurut keyakinan Pandji.