
Wi-Fi¹) gratis makin banyak. Di Puskesmas kelurahan saya juga ada. Nama koneksinya Patriot Bekasi Keren, karena slogan Kobek adalah Kota Patriot. Berapa kecepatannya? Saya lupa. Tangkapan layar dari fast.com sudah terhapus.
Bagi saya layanan ini perlu. Ponsel cerdas sudah dimiliki hampir semua orang. Tetapi pulsa dan kuota harus beli. Padahal sejumlah urusan harus ditempuh secara daring. Maka di puskesmas warga bisa memanfaatkan koneksi gratis. Misalnya saat mereka harus mendaftar layanan lebih lanjut ke rumah sakit. Atau harus menelepon anak via WhatsApp untuk dijemput.
Tentang Wi-Fi gratis, sekira 18 tahun silam teman saya tak mengunci router. Anak-anak muda yang nongkrong di warung rokok bisa memanfaatkan tetapi saat itu belum musim smartphones. Mereka membawa laptop.
Akhirnya teman saya menutup akses karena koneksi makin berat. Ternyata ada warnet sekaligus tempat gim daring seberang rumah yang ikut memanfaatkan untuk menambah bandwidth. Ini jelas bokis tidak etis, bermumpung diri dengan koneksi gratis untuk warga buat cari duit. Memang bukan mencuri namun tak patut.
Di sekitar saya dulu belum semua rumah berlangganan internet kabel. Router yang kuat tak saya batasi radius jangkauannya. Anak-anak muda segera mengendus dari laptop mereka, kalau orangtuanya sih tak paham karena tak memakai laptop.
Suatu kali koneksi berat. Lalu saya periksa, eh ada pembobol menikmati gratisan dan rupanya dibagikan. Segera saya blok, password saya ganti, radius saya batasi. Saya kini lupa bagaimana caranya. Mulai pikun. Buka DD-WRT dan lainnya sudah lupa caranya.
Kini setelah ada mobile internet, dan beragam harga paket data, urusan Wi-Fi menjadi tak semewah dulu. Dulu, 23 tahun lalu, di hotel tak ada Wi-Fi berbayar apalagi gratis. Tetapi di Panakukkang, Makassar, ada koneksi ke Telkom Instan yang pakai 0809 itu, dari telepon kamar, pakai laptop, dan tercatat di tagihan hotel.
Ada cerita lain. Sekira 18 tahun silam, di pelataran kantor saya ada angkringan WWW (dibaca WeTiga, singkatan Warung Wedangan Wi-Fi). Alat untuk berinternet saat itu umumnya adalah laptop dan Blackberry. Ada saja orang datang sejak magrib, pulang saat angkringan tutup menjelang tengah malam, hanya memesan teh manis panas, tetapi asyik berinternetria gratis. Salah kami kenapa menyediakan barang gratis yang saat itu masih mewah.
Soal Wi-Fi, di kantor ada koneksi gratis untuk tamu. Nah, sejawat saya, si Zam alias Roni, sekira 14 tahun silam, sungguh iseng, bikin password tanyapaman. Akibatnya tamu mencari saya, dari lantai loteng ke lantai satu, hanya untuk menanyakan password, bahkan saat saya sedang rapat kecil. Mulanya saya bingung.
1) Wi-Fi™ adalah jenama sehingga ditulis dengan awalan kapital. Dilafalkan wai-fai, tetapi wi-fi dan wai-fai juga boleh. Wi-Fi meniru istilah dalam audio yakni Hi-fi, high fidelity. Menyebut majalah Inggris tentang audio yang benar disertai tanda tanya: “What Hi-Fi?”.

7 Comments
wah, kelakuan sultan berkolor kuning! =))
Lha ya itu. Di Jerman dia nggak bisa gitu 😁
memang kurang ajar sekali si Zam itu..
jadi, password-nya apa, paman? 🤭
wah, jd kangen ketiga. apakabarnya skarang tempat itu ya. Dulu pas dinas ke ibukota pasti menyempatkan diri mampir situ terus ngobrol sama kawan-kawan yg suka mampir situ juga.
Saya juga pertamakali ketemu paman juga rasanya di kantor itu pas masih ikut bantuin di ngerumpi hehe
Tempat itu terakhir saya tahu jadi kedai masakan peranakan. Dulu sebutannya Rumah Langsat, rumahnya bloger. 🤭
Nanti kalau umur saya panjang semoga kita bersua lagi 😇🙏
Amiin, paman. Iya rumah Langsat. Taun Kmaren lupa kapan saya jalan kaki deket taman langsat, tp lupa posisi Wetiga dulu dimana hehe
Amiin, paman. Semoga nanti bisa bersua lagi
🙏😇