
Kompas hari ini (Selasa, 10/3/2026), yang edisi digital, menampilkan grafik IHSG dengan latar belakang Presiden Bowo. Foto karya Fakhri Fadlurrohman tersebut disertai kapsi:
Foto multiple exposure gerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Sepanjang perdagangan pada hari ini, IHSG terus melanjutkan tren pelemahan dengan penurunan terdalam menyentuh 7.156,68
Foto tersebut merupakan satu dari tujuh gambar dalam Galeri Foto bertajuk “IHSG Ditutup Melemah“, dengan pengantar ringkas “Di tengah gejolak politik dunia yang diwarnai kenaikan harga minyak, IHSG ditutup di level 7.337, melemah 3,27 persen.”
Akan tetapi untuk halaman versi koran, foto berita tunggal yang dipilih bukan berlatar Bowo. Masih menggunakan teknik jepretan ganda tumpang tindih, foto yang tampil adalah close up perempuan. Kapsinya sama.

Apa menariknya bagi saya? Pertama: foto IHSG dan bursa saham adalah jenis foto jurnalistik yang mudah tergelincir ke dalam kejemuan editor foto dan pembaca. Maka pewarta foto harus kreatif.
Saya pernah menulis, “Adapun foto seputar kegiatan di bursa efek adalah monitor dengan latar depan orang lewat. Foto lama dahulu menampilkan aktivitas para pialang di lantai bursa. Foto lebih jadul sebelum layar elektronik besar menjadi kelaziman teknologis, dan internet ponsel belum ada, menampilkan seorang floor trader sedang memantau harga saham dengan teropong.” (¬ Monitor bursa saham dan motor melintas).
Kedua: foto grafik berlatar Bowo itu kuat, ada konteksnya menyangkut situasi dan kondisi Indonesia; dari kontroversi MBG, ART, dan BoP, hingga dampak ekonomi agresi Amerika dan Israel ke Iran. Faktor kepemimpinan seorang presiden untuk mengendalikan masalah amat penting.
Ada soal lain dalam alasan kedua saya. Kenapa Kompas cetak tak menampilkan grafik berlatar Bowo? Saya berprasangka Kompas tak ingin cari masalah. Pejabat pemerintahan masih membaca media cetak, karena dilanggankan oleh negara. Kedutaan asing juga melanggani koran nasional — tentu kini jumlahnya sedikit.
Memang sih, dari sisi tata letak koran yang hanya berisi dua foto, gambar Mbak Kacamata lebih menarik. Bisa menjadi oase dalam jejalan teks.
Omon-omon langganan, misalnya anggota DPR tak ditraktir melanggani koran dan majalah, kesejahteraan mereka mampu melanggani beraneka media berita berbayar, domestik maupun asing, dan membeli buku yang bukan bajakan maupun buku bekas yang tidak langka. Perpustakaan pribadi anggota DPR dan DPRD pasti besar (¬ Mari, minta anggota DPR mentraktir media berbayar dan buku)

Masih dalam halaman Ekonomi & Bisnis ada foto berita tunggal tentang orang mengantre ATM. Kapsi foto Riza Fathoni:
Warga mengantre untuk mengambil uang pecahan Rp 10.000 dan Rp 20.000 di ATM Bank Mandiri cabang Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Minggu (8/3/2026) petang. Kebutuhan masyarakat akan uang pecahan meningkat menjelang Lebaran, terutama untuk dibagikan kepada sanak saudara di kampung halaman.
Soal ATM berisi uang Rp20.000-an itu menarik. Kebetulan Bung Sandalian di Jogja hari ini berkomentar untuk pos saya sambil mengenang saat mengambil uang gaji sejumlah karyawan kantornya. Ternyat dia memanfaatkan ATM berisi Rp20.000-an. Dia menulis, “Pulangnya tas saya lebih tebal daripada seharusnya.”
Saya menanggapi dengan menyebutkan pernah mengeposkan ATM berisi Rp20.000-an, di Menara Bank Mandiri, SCBD, Ramadan 2024. ATM Rp20.000-an yang masih ada hari ini adalah saksi perjalanan nilai rupiah. Awal 1990-an masih ada ATM Rp10.000-an, antara lain milik BNI di kantor pusatnya.
Kita bersyukur fotografi kian mudah. Media sosial ikut mencatat sejarah, bahkan konten visual medsos lebih banyak daripada media berjenis organisasi pemberitaan.
Tentu konten foto dari bank masih perlu karena resmi, mudah dicek kebenarannya, tinggal unggah ke akun resmi di medsos. Ada cara lebih mudah, dan mengurangi kesan pesan searah, yakni memanfaatkan berita.
Menjelang hari raya biasanya bank mengundang dan/atau membolehkan pewarta foto menjepret ketersediaan uang tunai. Yang paling sering melakukan adalah Bank Mandiri. Mereka sadar fungsi kehumasan: ada duit kes keras di banknya. Masyarakat tak perlu khawatir. Sedangkan Bank Indonesia saban tahun membuka penukaran uang besar ke kecil. Pasti jadi berita.


2 Comments
di era serba digital dan QRIS, masih ada juga ya yang butuh uang tunai menjelang lebaran
Lha kalo mau ngasih anak-anak piye?