
Siapa pun yang melintas di gang itu tahu, jangan menginjak pot maupun alas plastik bermotif mirip taplak yang melintang di atas lajur jalan. Pengendara motor juga tahu sehingga harus menepi agar ban tak melindas penghalang.
Karena terlihat menggunduk, semua orang menyimpulkan itu tonjolan dari semen yang masih basah, apalagi seharian gerimis hingga sore kemarin. Lalu apa istimewanya?
Justru karena tidak istimewa maka saya tulis. Ini adalah bagian dari kedewasaan berkomunikasi. Sejak bocah semua orang paham bahwa perintang yang lemah pun, karena pot bisa didorong dengan kaki, adalah sebuah pesan.

Hal sama berlaku terhadap lubang di jalan yang belum ditutup. Ember atau galon cat terbalik yang ditindih baru, demikian pula ranting pohon dikerudungi tas keresek berwarna terang, sudah menjadi pesan yang jelas. Ada kesepakatan sosial dalam menafsirkan simbol.

Kalau ada kerucut jingga terbalut pita reflektif, atau balok serat kaca, untuk penghalang, tentu lebih baik. Untuk lantai gedung perkantoran dan mal, sudah tersedia sign board, eh papan rambu, tinggal beli, yang bertuliskan “caution wet floor“. Kenapa berbahasa Inggris ya? Jangan rewel. Produk yang sekarang dijual sudah berdwibahasa. Di Malaysia, rambu macam itu ada yang versi bahasa Inggris, Melayu, dan Mandarin.


4 Comments
selain penanda, si pot juga jadi pemberat agar si taplak tidak terbang..
Sangar betooollll.
Di Jerman ada cara gini gak, Zam? 🤭
ngga ada paman. biasanya udah ditutup pake triplek atau dikasih pita merah-putih, dibuatkan jalur lain untuk lewat.
Nah! 👍