
Lima belas menit sebelum jam buka puasa, gerimis datang. Saya tak menepi untuk berteduh, terus mengayunkan langkah kaki. Entah kenapa saya ikut lega melihat bohlam dagangan kios itu sudah dikerudungi plastik.
Padahal dagangan ditaruh di trotoar, menghalangi pejalan kaki. Padahal saya belum pernah membeli lampu di situ. Padahal kenal pemiliknya pun tidak. Tetapi tahun lalu ketika kios itu masih baru, saya mengeposkan tentangnya.
Lebaran makin dekat. Tak tega rasanya jika melihat pedagang terkendala dalam berjualan karena hujan terus menyapa. Penjual nasi goreng keliling belakangan merasa terganggu oleh hujan, apalagi dia berkeliling malam hari.

Rezeki sektor informal memang tak menentu. Oh, bukankah toko yang bersih pun bisa berkurang pembelinya saat hujan datang apalagi kalau deras? Barusan kurir datang menghantarkan obat. Hujan memang boleh dianggap penghalang namun itu bukan alasan untuk menghindari.
Saya membayangkan, dahulu kala manusia purba hanya bisa berdiam dalam gua ketika hujan datang, sambil berdiang, untuk menghasilkan api pun lama. Perjalanan peradaban manusia mengenal cara menghadapi cuaca dan iklim, karena dengan itulah manusia bisa bertahan hidup.


2 Comments
kadng kasihan sama tukang dagang keliling saat hujan. gak dibeli kasih, dagangan gak laku. mau beli kok kasihan hujan-hujanan.
Lhaaa