
Karena dorongan impulsif saya jepret kemboja kuning dan merah di halaman tetangga. Ketika akan mengeposkan ke blog wagu ini, saya mencari tahu apakah pernah melakukannya. Ternyata pernah, pada 8 Juli 2023. Belum genap tiga tahun lalu. Artinya saya mulai pikun.
Pohon itu dapat menghasilkan dua warna bunga karena memang merupakan dua pohon yang tumbuh rapat. Kembang kuning dan merah menjadi hiburan bagi mata saya.

Tentang ingatan yang memudar, saya makin menyadari tadi pagi saat ngobrol dengan istri di teras. Saya gagal mengingat nama seorang tetangga se-RT padahal kami saling kenal dengan baik. Hanya bisa menyebut, “Itu lho Pak Siapa yang orang Madura? Dia dari Sumenep. Itu lho Pak Siapa….”
Setelah mencoba mengingat, istri saya dapat menyebutkan namanya — tetapi dia tak tahu asal bapak itu dari Sumenep, pun tak tahu tetangga lain kami, Ibu Madura, menganggap cara bertutur si Bapak lebih halus daripada orang Bangkalan.
Meskipun demikian saya ingat si Bapak pernah bermukim di daerah konflik pada awal 2000-an, terkurung dalam rumah di kawasan yang agamanya berbeda dari dirinya, namun para tetangga melindungi dia dan keluarganya. Dia bangga, Sumenep melahirkan Abdul Hadi W.M. dan Zawawi Imron.

Mengingat nama tetangga, saya beberapa kali gagal, setelah memeras benak baru ingat. Kalau nama menteri dan politikus semprul sih sebisanya takkan saya ingat, namun sering gagal. Mungkin ini hukuman untuk saya: menaruh perhatian kepada mereka.
Apakah tetangga saya kenal nama saya? Rasanya sih begitu. Memang selalu ada yang menyebut saya Pak Tantyo. Wajar, nama Tantyo lebih lumrah ketimbang tanpa T di depan.
Ketika saya masih mengontrak rumah empat tahun di RT tetangga, ketua RT menyebut nama saya Pak Theo. Sampai kini. Padahal saya dulu melaporkan diri dengan menyerahkan KTP serta KK.
Dua tahun lalu, pada suatu malam, saya melihat dua pria dewasa orang cekcok di depan rumah saya. Maka saya pun keluar rumah, istri saya menyusul. Salah satu dari dua orang saya kenali sebagai tetangga saya.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, menengahi dua tetangga lain, yang cekcok tengah malam saat hujan, namun saya yang rugi, maka saya menahan diri, tidak langsung nimbrung.
Nah, dalam percekcokan yang saya sebut pertama tadi, pria satunya memakai topi, di bawah lampu jalan wajahnya tak tampak. Namun dari suara dan gaya bicaranya sambil tetap duduk di atas motor akhirnya saya mengenali dia sebagai tetangga se-RT beda jalan.
Mereka masing-masing merasa benar. Jurus pemungkas Pak Topi adalah, “Apa yang Bapak lakukan itu nggak etis. Coba Bapak tanya Pak Yohanes. Gitu kan, Pak?” Dia mengucapkan sambil menoleh ke arah saya, kemudian meneruskan perbantahan.
Istri saya menggamit saya, berbisik sambil menahan tawa, “Namamu ternyata Yohanes.”
Mungkin Pak Topi lupa, atau malah setahu dia nama saya Yohanes. Padahal saya kenal istrinya, tahu nama dua anak lelaki mereka sejak mereka bocah, dan setiap kali bersua Pak Topi kami bercanda. Sudah 30 tahun kami bertetangga.
Yohanes, Yahya, Yokanan, John, Hans, Giovanni, Gianni, Jean, Juan, Ivan, dan Sean itu sama. Namun nama saya bukan salah satu dari itu.

2 Comments
wah, paman yohanes!
🏃🏃🏃🏃🏃🤭🤭🤭🤭🫣🫣🫣🫣🫣🫣