
Tinggi teras bangunan di kompleks pertokoan itu, dari pelataran parkir, hampir sejajar lutut pria dewasa. Tentu merepotkan bagi orang untuk naik. Maka para pemilik toko memberikan solusi berupa pijakan sebagai anak tangga, saya duga dari drum plastik yang dipaksa menjadi oval lalu diisi semen — bukan drum diisi cor-coran kemudian dipotong.
Karena merupakan hasil pemaksaan, bentuk lonjong tapak setinggi sejengkal jari orang dewasa itu tak penuh, menjadi meleyot. Yah, namanya juga usaha. Yang penting fungsional.
Selain pijakan lonjong meleyot, ada pula pijakan berupa bongkahan beton cetakan penutup drainase, yang juga berfungsi sebagai anak tangga tunggal.

Tetapi bagi saya, tidak semestinya para pemilik toko menambahkan pijakan jika rancangan arsitektural sudah memikirkan sejak awal. Masalah di Pondok Gede Asri, Kobek, Jabar, ini mengingatkan saya kepada trotoar setinggi di atas lutut perempuan dewasa pada lintasan zebra di Bogor.
Saya berprasangka penempatan lintasan, sebelum zaman drone, hanya berdasarkan denah tapak dari atas, tanpa melihat kondisi lapangan.


2 Comments
saya baru tahu, bahwa untuk anak tangga, ada aturan standarnya, setidaknya menurut standar Jerman DIN. DIN 18065, Gebäudetreppen – Begriffe, Messregeln, Hauptmaße.
kalo di Indonesia, SNI.
Banyak hal ada standarnya. Tinggi kursi, meja, wastafel, anak tangga, lebar pintu dan entah apa lagi ada standarnya. Dulu mahasiswa arsitektur di Indonesia pakai buku Ernest Neufert bajakan, lalu ada terjemahan resmi ke bahasa Indonesia oleh penerbit Erlangga.