
Tadi bilah kipas pengusir lalat bertenaga baterai itu berpusing cepat tanpa kebisingan. Lalu setelah tersentuh tangan maka putaran bilah pun berhenti, nglentruk, loyo. Di warung murah Jawa Sunda itu, tadi siang saat berteduh dari hujan, saya tersenyum.
Kemudian saya membatin kenapa tidak sejak dulu ada kipas praktis macam itu? Ini pikiran khas orang malas yang hanya tahu beres, tak pernah mengapresiasi hasil kreasi untuk inovasi. Penemuan dan penciptaan belajar dari kekurangan barang yang lebih dulu hadir.
Sekian puluh tahun etalase kaca warung padang harus diberi kipas gantung dengan rafia sejengkal untuk berkitar menyabet udara agar lalat menjadi jeri. Ada juga warung yang menggantungkan kantong plastik bening berisi air dengan harapan lalat akan menjauh.

Kenapa tak sejak dulu ada, itu seperti saya membatin saat pertama kali tahu colokan USB tipe C. Penampang depan si jantan maupun betina sama-sama lonjong, tinggal colok tanpa takut terbalik.
Dua puluh tahun lalu di pusat servis Acer di Mangga Dua, Jakpus, seorang teknisi dengan sabar mengajari saya cara mencolokkan USB tipe A ke port pada desktop mini saya yang seukuran buku KBBI. Saya ke sana karena barang masih bergaransi untuk mengganti port USB hitam yang patah akibat salah colok. Penyebabnya: faktor mata, kacamata plus entah di mana, belum ketemu.
Tentu saya tak perlu membela diri bahwa sebelumnya kantor yang saya pimpin punya lab kecil penguji gawai, ada fasilitas bongkar bisa pasang, karena nyatanya soket betina USB hitam, yang badan dan lidahnya juga hitam, pada PC saya patah. Kalau saya jadi teknisi juga akan mengajarkan hal sama.

Lalu soal kipas tadi, apa menariknya selain kenapa tak sejak dulu ada, padahal secara teknis sederhana, hanya butuh motor kecil dan sumber daya? Promosi di media sosial macam TikTok dan belanja daring membuat pengetahuan dan rasa tergoda konsumen untuk membeli barang, yang antara perlu dan kurang perlu, bertambah.
Sebelum ada belanja daring dan media sosial, informasi terbatas. Orang tahu suatu barang tertentu setelah melihat di toko atau melihat orang lain memilikinya.
Tetapi bukankah gairah belanja, apalagi impulsif, akan menambah jumlah sampah plastik dan sampah elektronik? Ehm, ya juga sih.

2 Comments
barang-barang tiongkok memang ada aja.. hal-hal remeh yang menjawab masalah nyata. saya juga beberapa kali beli barang dari Aliexpress karena di pasa online Jerman dan Eropa ngga kenal. karena masalahnya adalah masalah Asia, bukan masalah Eropa..
Masalah Asia. Aha! 👍😁