
Sandal jepit ini akhirnya putus saat pagi hari saya membuka jendela. Saya tak merasa akan putus karena alas kaki tetap bisa saya pakai, dan saya tak memeriksa apakah sudah ada retakan. Lagi pula sandal ini hanya saya pakai dalam rumah.
Lalu apa masalahnya? Saya lupa kapan terakhir kali mengalami sandal putus penjepitnya. Kalau sandal gunung lepas tali saya ingat, dan saya poskan Februari tahun lalu.
Selama ini saya berganti sandal jepit karena yang lama sudah geripis dan mengeras, atau sudah kotor banget padahal sudah saya sikat untuk membersihkan.

Ingat sandal jepit ingat Swallow, karena itulah yang saya kenal sejak kecil. Bahkan hanya penjepitnya pun dulu dijual. Saya mengalami sesekali kuliah memakai sandal jejit, namun ketika saya mengambil suatu mata kuliah bareng anak teknik mesin di fakultas ekonomi, bukan fakultas saya, dosennya marah karena saya bersandal jepit.
Ketika dosen tahu saya dari jurusan apa di fakultas mana, dia bilang, “Ooo… pantes! Muridnya Anu Itu ya….”
Zaman dulu memang wagu. Di fakultas saya boleh bersandal. Tetapi kami tahu diri, kalau menghadap dosen harus bersepatu, termasuk sepatu sandal. Saya terakhir kali melihat banyak mahasiswa bersandal jepit, sebagian berkaus dengan balut surjan tenun lurik, di sebuah PTS di Lenteng Agung, Jaksel, 1990.
Bahkan saat saya mewawancarai rektornya, mahasiswa masuk ke rektorat dengan bersandal. Ternyata Pak Rektor juga bersandal jepit padahal bukan jam salat.

Hal wagu lainnya, di jurusan saya dulu ada seorang dosen yang bukan cuma tidak peduli mahasiswa beralas kaki apa, tetapi membolehkan mahasiswa yang ikut kuliahnya merokok. Dia yang lebih terkenal daripada dekan, dan rektor tertentu, itu juga merokok. Saat itu ruang kelas tanpa AC, banyak jendela, pakai kipas angin di plafon. Saat itu belum ada regulasi tembakau. Jorok, lantai ruang kuliah menjadi asbak.
Lalu kembali ke Swallow. Jenama itu sudah saat saya bocah. Pernah saya bahas di pos lawas, bahwa merek Swallow menjadi sengketa karena masalah pendaftaran merek, sehingga setelah kalah maka pemilik merek mengganti merek dari Swallow menjadi Skylark, diumumkan di koran.
Menurut Kompas.com (18/5/2021), sandal Swallow dibuat sejak 1987. Lho padahal Swallow yang saya kenal ada belasan tahun sebelumnya. Saya tak tahu duduk maupun berdiri masalahnya, namun seingat saya pada dasawarsa 1970 dan 1980 banyak sengketa merek dagang karena pemerintah berpedoman pada pihak yang pertama kali mendaftarkan diri.
Dalam konteks itu, jenama yang lebih dahulu hadir, namun belum terdaftar di Departemen Kehakiman, berpeluang kalah. Merek asing yang berjuang keras mempertahankan diri antara lain Tancho dan Pierre Cardin. Kasus Cardin menjadi bahasan di dunia luar karena menyangkut jenama dari nama besar perancang busana dari Prancis.

Lalu Swallow yang sekarang, yang ditulis Kompas.com, bagaimana latar belakangnya, saya tak mencari tahu lebih banyak. Pastilah secara legal kuat.
Omong-omong soal sandal jepit dari karet, saya pernah menulis paling nyaman adalah Ando (2010).

3 Comments
Tancho ada berebut merek juga tho… Saya nggak pakai Tancho, tapi tahu mereknya saja. Dulu gedung Tancho jadi salah satu tempat menurunkan penumpang bus arah Tanjung Priok. Jauh-jauh si kondektur sudah teriak, “Tancho, Tancho!” Kalo gen Z dengar sekarang, mungkin dikira lagi misuh #kriuks 😀
Iya, pabriknya di Jakut. Ada juga perakitan mobil dan motor, juga sepeda, di area sekitar sana, tapi itu dulu.
PT Tancho Indonesia kemudian jadi PT Mandom Indonesia Tbk (TCID). Antara lain bikin Pixy, Pucelle, Gatsby, Fresh n Fresh, dan Johnny Andrean.