
Setelah membuka kardus belanjaan daring dari Astro, putri bungsu saya menyorongkan kertas dalam plastik, “Nih, buat Bapak. Mungkin tertarik.”
Saya lihat barang itu, wajah grafisnya serupa majalah Hidayah. Lebih halus dengan aksen arsiran sikit. Ilustrasi versi Hidayah asli lebih ekspresif, agak menyerupai sampul novel Indonesia 1970-an.

Tak hanya logo namun gaya ilustrasi dan cover lines Astro sangat Hidayah. Kaum di atas generasi Z pasti tahu majalah itu, setidaknya ingat sampulnya, antara lain dari lapak koran dan majalah. Hingga kini Hidayah versi bekas masih dijajakan di lapak lokapasar.

Hidayah terbit awal 2000-an, selesai sekitar 2016. Menurut Era.id (2023), Hidayah Indonesia merujuk majalah Malaysia dengan nama yang sama, bersemboyankan “Sebuah Daiges Islam”. Versi Indonesia, oleh penerbit yang sama, Variapop Group, milik warga Malaysia H. Mustafa bin H. Ton, bermotokan “Sebuah Intisari Islam”.

Mustafa, yang di Malaysia juga menerbitkan Variasari yang membahas seksologi, dan Misteri yang mengupas hal-hal mistis, tergerak membuat Hidayah di Indonesia setelah melihat kesuksesan majalah Sabili. Pangsa pasar media islami ternyata besar.

Siapa ilustrator sampul dan halaman Hidayah Indonesia? Merdeka.com, hampir satu dasawarsa lalu, melaporkan bahwa ilustratornya adalah Mulyadi, saat itu 51 tahun. Sebelumnya dia menggarap ilustrasi untuk Hidayah Malaysia. Begitu kuat imaji sampul karya Mulyadi sehingga Kapanlagi.com (2016) menghimpun contoh meme seputar sampul Hidayah.

Lantas setelah Astro mengemas selebaran ala Hidayah, apakah generasi Z tergamit? Saya tak tahu. Anak saya sih tampaknya tak terkesan. Apa pun pertautan memori konsumen dengan Hidayah, saya berpengandaian bagi mereka sajian visual Astro itu berbeda, dalam arti tak sama dengan kecenderungan materi visual promosi berupa foto, bahkan video, apalagi dengan bantuan AI tampak perfek.

Bagi sebagian orang, sajian visual Astro mungkin sedikit berbau mengarah Indonesia vintage, lokal banget, namun bisa saja ada yang berpendapat apakah ini bukan gaya gambar Malaysia?
Ehm, apa itu identitas Indonesia, apalagi citra visualnya, adalah sebuah proses pencarian diri tiada bersudah. Tema visual ucapan selamat Lebaran Indonesia yang bagaimana (apakah tidak harus bergaya Timur Tengah?), lalu bagaimana tema visual ucapan selamat Natal (supaya berbeda dari dunia Barat), dan kemudian tema visual selamat tahun baru Imlek macam apa (tanpa tulisan Latin apa bedanya dari Singapura, Hong Kong, dan Tiongkok?), yang ada kemarin, hari ini, dan esok adalah potret Indonesia.

@m.adysyah_ Kumpulan Majalah Hidayah Edisi 2005-2006, siapa yang sudah punya 😳. #fyp #azab #suulkhotimah #siksakubur #sakaratulmaut #majalahhidayah ♬ Hidayah (Desy Ratnasari, Chaerul EC) – Desy Ratnasari, Chaerul EC

7 Comments
Lha kan jadi konten karena ayahnya tertarik😁. Sedangkan sang anak “tampaknya tak terkesan”.
“Mungkin tertarik.” Pastilah, Paman, je. Anaknya yang tidak.😁
Kok bisa bilang gitu?
misal kalo gaya ilustrasi Hidayah ini jadi materi AI, mungkin Gen-Z akan tertarik? atau malah “apa sih ini?”
Ada dua kemungkinan sih 😅
Tertarik dan tidak.
Dari sisi pengerjaan ilustrasi Astro tentu sudah melibatkan kompugrafis, dan bukan tidak mungkin ada layanan AI yang bisa mengonversi foto, juga hasil AI, ke gaya ilustrasi macam ini.
Saya malah baru tahu kalo majalah Hidayah itu ngikut punya Malaysia. Tp isinya seringkali menyenangkan sih,
Melihat sisi lain manusia yg ada ada saja, dan pasti soal azab yg unik2. Ngeri sebetulnya tp bikin pnasaran
Tak semua di dunia ini materi telanjang yang kasat mata seperti duit kertas yang dapat dipegang, diraba dan seterusnya. Ada wilayah gaib, esoterik dan entah apa lagi 😇