
Inilah potret ekonomi rakyat: penjual bensin eceran masih bertahan. Saya melihatnya kemarin malam pukul setengah tujuh. Petugas, maksud saya penjual, tak perlu berseragam.
—
Ada pengecer yang hanya menggunakan botol kaca ukuran satu liter untuk mewadahi bensin, dan ada pula yang menggunakan pompa bensin mini yang bertuliskan fuel dispenser.

Ada juga pengecer yang memasang tulisan Pertamini, nama berbau pelesetan, dan Pertamina membantah jenama itu bagian dari bisnisnya. Kalau Pertashop memang bagian dari program kemitraan Pertamina.
Mungkin hanya di kawasan bisnis dengan menara kaca yang tak memiliki pengecer bensin. Tak ada tempat yang dapat mereka pakai karena taman rapi pun terawasi. Rombong rokok juga tak ada. Berbeda halnya dengan kawasan permukiman, karena di gang mblusuk, jauh dari jalan raya, pun ada pengecer bensin. Tentu ada syaratnya: banyak sepeda motor di sana.

Harga bensin di pengecer lebih mahal Rp1.500–Rp2.000 per liter. Bagi pembeli eceran, kalau hanya mengisi sedikit tak perlu mengantre di SPBU. Menurut hukum, menjual bensin eceran harus berizin (Pas 53 UU No. 22/2001).
¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan

4 Comments
Di dekat rumah ada penjual bensin eceran yang menyediakan paket hemat: setengah liter saja. Ditampung di dalam botol AMDK ukuran 600-an mililiter.
Wah kreatif. Ini sama dengan ilmu produsen saus bikin edisi sasetan 👍😁
kalo misal motor dan mobil listrik sudah umum, kira-kira akan ada penjual powerbank eceran juga ga ya, paman?
Lha kan baterai mobil dan motor sudah ada yang punya fitur buat ngecas?