Seni memarkir motor bukan di rumah sendiri

Tetaplah mencintai Endonesah, sewagu apa pun negeri ini. Kalau yang di atas boleh semaunya, yang bawah juga harus boleh.

▒ Lama baca < 1 menit

Parkir motor di warung soto Cipto Roso, Puri Gading, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Lihatlah mobil dalam foto di atas. Karena mengira masih ada tempat untuk memarkir, mobil langsung masuk. O, o, ternyata terhalang dua sepeda motor. Padahal di pelataran warung soto itu sudah ada sisi kiri untuk memarkir motor.

Parkir motor di warung soto Cipto Roso, Puri Gading, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Karena area parkir motor tak ditandai tulisan dan garis? Oh, baiklah. Tetapi saya sering melihat, di tempat yang sudah diberi garis pun motor tetap parkir semaunya. Cara meletakkan motor pun bebas, sehingga ruang yang mestinya bisa untuk enam motor hanya cukup untuk tiga motor.

Parkir motor di warung soto Cipto Roso, Puri Gading, Kobek, Jabar — Blogombal.com
¬ Memang tanpa tulisan dan garis tapi pengudap tahu di sisi kiri halaman warung itu untuk sepeda motor, bahkan tak selalu penuh.

Karena tak ada tukang parkir? Ehm, istri saya tertawa saat saya menegur tukang parkir di Alfamart yang buka 24 jam karena dia membiarkan motor malang melintang menyita ruang sehingga motor lain mengambil area parkir mobil. Lalu mobil yang tak kebagian ruang pun parkir di jalan yang sempit.

Kenapa istri saya tertawa? Si tukang parkir enteng menjawab, “Iya tuh, pada susah diatur, Bos!” Lantas saya bilang, “Lha tugas Abang apa?” Jawaban dia konsisten, “Iya tuh, pada susah diatur, Bos!”

Parkir motor semaunya di halaman Indomaret Chandra Baru — Blogombal.com
¬ Sudah ada garis parkir, pemotor tetap memarkir kendaraan semaunya. Mungkin mereka merasa pemilik minimarket, padahal pemiliknya tidak begitu.

Padahal yang parkir malam itu anak-anak muda sekitar lokasi. Kalau yang parkir anggota atau petugas, atau orang ormas, sebaiknya jangan diatur karena mereka bisa mengatur diri sendiri sesuai mood dan selera secara sewaktu, seperti mengukur gula darah.

Jadi, apa masalah pemarkiran motor? Tidak ada. Di rumah masing-masing mereka bisa memarkir motor dengan menyiasati ruang. Saat bertamu ke rumah orang kadang juga bisa.

Parkir motor bikin sesak jalan sempit di mulut Chandra Baru — Blogombal.com

Kalau di pelataran minimarket, ruko, kedai, puskesmas, dan seterusnya? Ikuti kata hati. Juga ini: ikuti apa yang telah dilakukan pemotor lain. Maka saya sebut bagi mereka tak ada masalah.

Kalau Anda mengatakan mereka tak memiliki tepa salira, hanya mementingkan diri sendiri, ah itu salah. Mereka tahu bahwa orang lain toleran, malas ribut untuk hal yang diyakini sepele. Kecuali kalau orang lain itu galak karena berstatus anggota, petugas, dan bagian dari ormas yang gemar menekan orang lain.

Akan makin salah, dan keluar dari fokus masalah, jika Anda usul agar orang-orang menangan tadi keluar dari korps dan membentuk ormas, atau ini yang lebih simpel: korps mereka berubah jadi ormas, tetapi digaji oleh negara.

3 Comments

Zam Minggu 22 Februari 2026 ~ 14.33 Reply

tugas tukang parkir: hanya muncul untuk meminta uang

🫣

Warm Sabtu 21 Februari 2026 ~ 04.08 Reply

Jawaban tukang parkirnya konsisten ngeselin jg sih 😅 untungnya di sini minimarket bener2 bebas biaya parkir & emang kebanyakan naik mitor yg parkir juga

Pemilik Blog Sabtu 21 Februari 2026 ~ 18.28 Reply

Dia hanya tahu terima duit.
Bagus tuh parkir gratis. Harusnya gitu.

Tinggalkan Balasan