Lift ke lantai 4 ini kenapa?

Tetrafobia, takut akan angka 4, adalah bagian dari fengsui. Maka tak semua gedung punya lantai 4.

▒ Lama baca < 1 menit

Lift menuju lantai 4 di toko daging Nusantara, Jalan Kranggan, Jatisampurna, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Angka 4 dalam lift toko daging ini disilang. Saya menyimpulkan lantai empat belum berfungsi, dan tidak ada keinginan untuk mencoba memencet tombol 4.

Atau mungkin memang tak ada lantai empat, gedung toko hanya berlantai tiga. Misalnya ada, bisa saja lantai empat masih melompong karena lantai tiga pun baru sebulan difungsikan untuk kedai.

Misalnya ada lantai empat, bagi saya menarik karena dalam penamaan lantai pemilik gedung tetap mempertahankan angka 4. Pada banyak gedung di Jakarta, antara lantai 3 dan lantai 5 dinamai lantai 3A. Biasanya karena mitos bahwa angka 4 dalam aksara Latin serupa kursi terbalik, tidak bagus. Padahal peradaban Barat menyerap angka dari Arab, menggantikan angka dalam aksara Romawi.

Akan tetapi dalam kepercayaan tradisional masyarakat Cina, bunyi empat “si” dalam aksara Mandarin itu mirip “si” yang berarti mati (¬ Wikipedia).

Mitos dalam penamaan lantai gedung, jangan pakai 4 — Blogombal.com

Pos saya di blog wagu pada 2010, anggap saja 16 tahun silam, mencatat soal ketiadaan lantai 4 di Blok M Square, Jaksel, dan Mal Kelapa Gading yang dari mal 3 langsung ke 5. Lalu berapa persen gedung di Singapura dan Hong Kong, apalagi di RRT, yang tak mengenal penandaan lantai keempat? BBC pernah menulis soal tetrafobia di Hong Kong (2020).

Eh, apa tadi, lantai keempat? Mestinya kita menyebut begitu karena untuk first floor kita bisa bilang lantai pertama, lalu urutan selanjutnya memakai “ke”, seperti bahasa Inggris mengenal second (2nd), third (3rd), fourth (4th), dan seterusnya.

Biarlah itu menjadi urusan guru bahasa Indonesia, baik yang sudah menjadi ASN, dan terutama PNS, maupun belum tetapi disalip sopir mobil MBG yang berstatus PPPK — bukan pertolongan pertama pada keracunan kecelakaan melainkan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja.

6 Comments

Zam Minggu 22 Februari 2026 ~ 14.43 Reply

kalo di sini, beberapa lantai ada lantai 0 dan EG, alias lantai dasar. di tempat saya, ada tombol 0 dan EG. kalo 0 dipencet, tombolnya otomatis mati sendiri. terus ngapain ada tombol 0??

Pemilik Blog Minggu 22 Februari 2026 ~ 18.06 Reply

Wah ini logika Jerman?

@sandalian Jumat 20 Februari 2026 ~ 14.36 Reply

Sebuah RS milik bu rektor kampus bulaksumur juga tidak memiliki lantai 4, di lift tertulisnya 3A & 3B.

Soal lantai, saya kadang bingung dengan perbedaan penyebutan lantai 1. Ada yang menyebut lantai dasar dengan lantai 1, ada juga yang menyebut lantai atasnya sebagai lantai 1.

Pemilik Blog Jumat 20 Februari 2026 ~ 20.51 Reply

Aha! Untung di kampus ada lantai 4.

Soal penamaan lantai memang sesuai selera si empunya.

Di mal lebih membingungkan. Ada lower ground, lantai dasar, dan upper ground.

Di Amrik, lantai yang langsung masuk dari jalan adalah first floor, tapi di Inggris ground floor, yang di atasnya adalah first floor.

@sandalian Rabu 25 Februari 2026 ~ 11.04 Reply

Ah iya, Amrik dan Inggris beda aturan.

Belum lagi pemakaian istilah storey alih-alih floor yang kadang bikin bingung.

Pemilik Blog Rabu 25 Februari 2026 ~ 15.07 Reply

Mereka memang maunya berbeda dalam banyak hal.
Negeri bekas jajahan Inggris paling kemlinthi, apalagi kini, adalah Amrik.

Tinggalkan Balasan