
Di sebelah kiri tikungan, pas pada pagar terluar suatu kompleks perumahan yang ada gardu rondanya, ada bunga yang belum pernah saya lihat. Maka saya juga tak tahu namanya karena tahu wujudnya pun belum tentu tahu namanya.
Kelopak bunga itu memanjang. Ukuran besar. Setelah mengamati dari dekat saya melihat di sebelahnya ada buah yang masih muda, hijau warnanya, terpalang oleh galah bambu.
Oh, pasti ini tanaman buah naga. Entahlah apa warna dagingnya, putih (Hylocereus undatus) ataukah merah (Hylocereus polyrhizus). Dan bunga itu adalah bunga naga. Bukankah untuk menyebut bunga dari tanaman buah nanas kita cukup menyebutnya bunga nanas?

Tetapi baiklah jika Anda mendebat, nanas dan belimbing disebut begitu saja, tanpa atribut buah, maka nama bunganya disebut bunga nanas dan kembang belimbing. Lebih penting membahas apa terjemahan grapefruit (Citrus × paradisi), bukan grape fruit, dalam bahasa Indonesia, dan bagaimana menyebut bunganya. Eh, bahasa Indonesianya ada, ding: limau gedang. Nama bunganya ya kembang limau gedang.
Lalu soal kembang naga yang belum terhalang palang ini apa? Saya mencoba bercermin. Begitu berjaraknya saya dengan beraneka buah, hanya tahu buah dan memakannya, sehingga tak tahu pohonnya — misalnya semua tanaman buah bisa disebut pohon. Semoga Anda, dan anak-anak Anda, tak seperti saya.

Pohon mangga, sawo, kelapa, kepel, durian, pisang, alpukat, salak, dan pace, saya tahu. Tetapi untuk pohon gayam saya lupa, sedangkan pohon apel baru saya lihat tanpa sengaja di sebuah halaman vila, Bandungan-Sumowono, Kabupaten Semarang, Jateng, saat SMP.

Kalau pohon kledung atau kesemek saya belum pernah melihatnya. Pohon timun suri saya belum pernah tahu. Sekali lagi, kalau semuanya bisa disebut pohon karena dalam bahasa Jawa disebut uwit atau wit.
Eh, bukankah sekarang era multimedia, sehingga tanpa melihat langsung pun kita bisa mengenali pohon sirsak, nangka, srikaya, gandaria, rambutan, kurma, delima, asam, dan seterusnya sampai persik? Ya sih. Tetapi lebih marem kalau kita tahu karena pernah melihat langsung.
Eh, apa tadi, persik? Orang sekarang lebih mengenalnya sebagai peach.


6 Comments
kalo saya pernah makan buah kaktus, paman. dari Amerika Tengah/Afrika. mirip buah naga (pohon buah naga kan juga termasuk semacam kaktus), namun bijinya keras. baru lah saya tahu kalo buah kaktus ini biasa dibuat minuman, karena bijnya yang banyak dan keras itu.
Wah saya belum pernah. Mungkin di supermarket premium Jakarta ada ya, impor
Sebagai orang IPS saya hanya tahu dendrobium 🤭 🫣
saya jg baru ngeh kalo ga semua buah saya tau bentuk bunganya
dan jangan2 gara2 penamaan Jawa utk pohon itu wit, maka sekarang sawit disamakan dengan pohon. 😅 ruwet
Saudara Warm yang baik,
Sebagai orang yang belajar perihal tumbuhan dan tanaman atau apalah, Saudara pasti tahu bahwa apa yang ada di perkebunan sawit adalah pohon, ada daunnya, menyerap karbondioksida, dan seterusnya, bahkan sebagai monokultur harus dirawat dengan baik dan benar, karena di luar itu adalah gulma, padahal usia pohon sawit paling cuma 25 tahun. Salam wit-witan. Termasuk wit bayem 🙈
Oiya jg sih. Pantesan dulu nilai matakuliah dendrologi saya rendah gara2 tak paham makna wit kui 🙊