Halte bus elitis JRC Transjabodetabek di Jatiwarna

Masalah transportasi warga wilayah penyangga Jakarta kadung ruwet. Siapa suruh hidup di Jabodetabek?

▒ Lama baca < 1 menit

Halte bus elitis JRC Transjabodetabek di Jatiwarna – Blogombal.com

Tadi, setengah tujuh menuju malam, belum hujan lagi. Ketika berjalan kaki, saya melewati halte baru bus JRC dan Transjabodetabek, yang kondisinya seperti terlihat dalam foto.

Halte tersebut memanfaatkan lahan kosong, di jalan samping tol JORR di Jatiwarna, setelah pindah dari jalan masuk ke apartemen Grand Dhika City, sekitar 300 meter dari tempat baru.

Itu halte, terminal, atau pangkalan bus? Saya tak tahu sebutan yang tepat. Secara resmi mungkin cuma disebut tempat keberangkatan dan kedatangan, hanya pagi dan senja, tanpa jaminan bisa duduk, dari Jatiwarna, Kobek, Jabar, ke beberapa titik di Jakarta, antara lain Monas dan SCBD, pergi pulang.

Masalah transportasi orang Kobek, Jabar — Blogombal.com

Masalah transportasi orang Kobek, Jabar — Blogombal.com

JRC adalah Jabodetabek Residence Connexion, yang bersama Transjabodetabek dikelola oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kemenhub. Operator JRC adalah PPD dan Transjakarta. Kompas pernah menyebut kedua armada tadi sebagai bus untuk kaum elite di wilayah penyangga Jakarta.

View this post on Instagram

Kompas juga pernah mengangkat laporan tentang biaya transportasi warga Jabodetabek. Mahal, bisa menghabiskan sepertiga gaji bulanan. Soal kepenatan fisik dan mental, yah gitu deh.

Masalah transportasi orang Kobek, Jabar — Blogombal.com

Kenapa masalah transportasi Jakarta Raya atau The Greater Jakarta tak kunjung beres? Persoalannya kadung menumpuk dan berbiak di seluruh wilayah seiring pertumbuhan bisnis dan penduduk di DKI, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang serta Kota Tangerang Selatan.

Dalam aglomerasi besar ini, sejak tahun 1970-an sejumlah pemerhati masalah perkotaan sudah mengusulkan Jabotabek, saat itu belum ada Kota Depok maupun Kota Bekasi dan Kota Tangsel, diurus oleh pejabat setingkat menteri.

Pemerintah sudah melakukan sejumlah perbaikan namun tak dapat mengejar laju masalah yang tumbuh secara organik dengan logika masing-masing pemain. Rumit.

Ada sih suara yang sulit disebut pelipur lara, “Siapa suruh hidup di Jabodetabek?”

View this post on Instagram

4 Comments

Zam Minggu 22 Februari 2026 ~ 14.38 Reply

saat membaca berita Transjakarta membuka jalur ke Bandara Soekarno-Hatta, saya hanya geleng-geleng. ngapain? emang kurang, transportasi ke bandara? berapa banyak sih yang pakai? kenapa ga memperbanyak transportasi suburban?

ah apalah saya yang hanya bisa yapping

Pemilik Blog Minggu 22 Februari 2026 ~ 18.04 Reply

Yah begitulah.
🫣

Warm Jumat 20 Februari 2026 ~ 02.57 Reply

Di satu sisi ongkos transportasi di Jabodetabek kalo dikalkulasi totalnya cukul mihil.

Tp di sisi lain sarananya tersedia, prasarana jalannya juga ada & cukup bagus (walo kadang macet). Tarif per angkutannya juga bikin ngiri saya yg di sini kalo kemana2 mau tak mau harus ngandelin kendaraan pribadi.

Banyak plusnya sih paman, termasuk surplus penduduk & jumlah kendaraannya hihi

Pemilik Blog Jumat 20 Februari 2026 ~ 10.12 Reply

Surplus. 😁 👍
Mungkin ini masalah negeri baru, yang merdeka setelah PD II: ibu kota menjadi pusat segalanya. Kondisi geografis Indonesia yang merupakan kepulauan, bukan daratan kontinental, dan buka negara federasi, merepotkan dalam prioritas pembangunan yang ditentukan oleh pusat.

Ibu kota, dan pulau yang menjadi sentral atau koentji, yakni Jawa, menjadi berat. Belum lagi ancaman defisit air nanti.

Ruwet tapi ya gimana, love and hate relationship ttg Indonesia. 🫣 🤔

Tinggalkan Balasan