
Sudah lama saya tak memotong kompas melalui gang kecil untuk dua motor berpapasan itu. Mungkin tiga tahunan. Tadi saya menyusuri lagi lorong itu. Sebelum bersua gang yang lebih lebar, cukup untuk mobil, saya melihat rumah besar berlantai dua dengan cahaya lampu kekuningan.

Rumah siapa ya? Dasar saya mulai pikun, maka setelah memotret saya sadar bahwa itu bagian belakang dari resto Rumah Jawa di pinggir JORR, Jatiwarna. Dua pintu gerbang adalah akses menuju basement. Sedangkan akses dari halaman depan langsung naik undakan ke lantai satu.

Itulah seni jalan kaki pagi, siang, dan malam. Atmosfernya berbeda. Tata cahaya sebuah bangunan pada malam hari menghadirkan sosok yang berbeda. Tadi sebelum saya sadar itu bangunan resto, saya membatin kenapa semua jendela dibuka, dan lampu ruang terang, lagi pula ukuran ruang besar. Misalnya lampu interior padam, saya mungkin tak memberi perhatian lebih.
—
—
Begitulah, seperti pernah saya tulis, lampu kekuningan memberikan pesona lebih daripada lampu putih biasa. Memang dengan watt yang sama lampu warm daylight kalah cerlang, lumensnya lebih rendah. Saya juga pernah menulis, penjual daging sapi dan daging ayam lebih suka lampu kuning. Cobalah di rumah Anda.


6 Comments
di Jerman, sulit sekali saya mencari lampu daylight. rata-rata lampu di area residensial, selalu kuning (warm). rupanya ada semacam aturan tak tertulis, di mana orang menggunakan warna warm di rumah untuk rileks. sementara yang putih banyak di area komersial karena cenderung mendorong aktivitas.
Ada pedomannya yang sih. Sekarang muncul natural white
Baiklah, nanti akan saya coba di rumah saya.
Sumangga 🙏
Sumangga 🙏
Tapi jangan tergoda yang model wolfram kayak bohlam model jadul, itu cuma tambahan buat yang bohlam biasa
👍