
Bocah laki yang bersila di lantai warung gado-gado itu terus bergumam. Dia asyik dengan dirinya dalam menata gambar umbul. Jika perlu dia akan beringsut untuk mendapatkan posisi yang pas dalam menggeprek sebuah tumpukan gambar.
Menggeprek yang saya maksudkan adalah kedua telapak tangan diangkat dalam posisi menelungkup, kemudian dia tepukkan keras-keras ke lantai, tepat di hadapan tumpukan sasaran. Dorongan angin karena geprekan tangan di lantai akan membalikkan tumpukan tersebut. Diam-diam saya mengamati dan memotretnya.
Saya kurang paham dengan aturan bermain umbul atau gambaran atau gaburan macam ini. Yah, soal perbedaan generasi. Zaman saya bocah, gambar umbul diterbangkan. Namun ada yang lebih penting, karena istri saya membisiki saya, “Lebih baik gitu daripada mainan hape terus.”
Ini seperti jawaban asisten paruh waktu kami, saat saya tanya anak lakinya yang masih SD saat libur sekolah hari itu ke mana, “Dari pagi udah main bola, Pak. Entar layangan. Lebih baik gitu daripada main hape mulu.”
Bagi saya, misalnya masih seusia bocah itu, semuanya penting dan menarik: ponsel, umbul, ketapel, konsol gim, bersepeda, memanjat pohon, membaca, ngeluyur, dan seterusnya.
Waktu bocah, saya sering membaca dengan duduk atau tiduran di atas pohon gandaria bahkan di sisi atap teduh garansi. Ikut main bola kalau kekurangan pemain, paling pol saya jadi kiper atau bek karena tidak bisa dribbling maupun melakukan penalti dan kornèl dengan genah.

Itu tadi kalau saya sekarang masih bocah. Tetapi sebagai orang tua maupun orangtua bagaimana? Saya tak tahu bagaimana akan mengatur penggunaan ponsel untuk anak-anak saya karena mereka sudah dewasa. Setiap keluarga itu otentik. Termasuk dalam mendidik anak.
Saudara saya dulu membatasi kedua anak lakinya bermain gim di PC. Ada jadwal di tembok dekat layar komputer. Si sulung kemudian meninggalkan praktik dokter hewan, menjadi ilustrator dan animator. Si bungsu bekerja di perusahaan gim — kantornya pernah digerebek polisi tengah malam karena warga menduga untuk judi daring.
Kenapa malam hari mereka bekerja karena perbedaan waktu di Indonesia dan markas di Prancis. Kantor Indonesia yang mengalah.

Setiap generasi dan masa memiliki permainan kartu untuk anak-anak. Di Indonesia pada 1980-an demam album stiker Panini, yang menguras uang jajan lebih besar ketimbang gambar umbul. Akhirnya Panini merambah ke stiker digital. Kini yang masih digemari adalah koleksi photocard K-pop. Penggemar koleksi kartu Dragon Ball sekarang sudah menjadi pasutri muda. Saya tak tahu apakah baseball cards dan NBA cards banyak penggemarnya di Indonesia — apalagi kartu American football.
