Syarat bayar tunai: jangan rewel kalau tiada kembalian

Sekarang pun transaksi kecil di warung pakai QRIS. Nanti kita lupa gambar pahlawan dalam uang kertas?

▒ Lama baca < 1 menit

Syarat pembayaran tunai di soto semarang Cipto Roso Puri Gading Kobek Jabar — Blogombal.com

Tulisan pada kertas di meja kasir soto semarang Cipto Roso Ny. Riyanto, Puri Gading, Kobek, Jabar, ini jelas. Dalam tafsir saya: pembayaran tunai oleh pembeli kalau disertai permintaan uang kembalian akan merepotkan kasir.

Begitulah konsekuensi setelah pembayaran nirtunai makin meluas, terutama setelah ada QRIS — sebagian orang masih melafalkannya kyu-ris; sejak kapankah bahasa Indonesia mengenakan huruf kyu?

Saya teringat zaman tak enak dulu, setiap pagi angkot T461 Jatiasih – UKI memasuki gerbang tol TMII, penumpang berlomba menyerahkan lembaran Rp10.000 ke atas kepada sopir untuk dipecahkan karena ongkos angkot tak sampai Rp1.000.

Belasan tahun lalu, setelah didrop istri di depan Kompleks Parlemen, saya berganti taksi ke arah Gandaria. Sering kali sopir tak punya uang kembalian, karena baru berangkat; perolehan narik taksi sudah diserahkan istri. Jika saya tiba di tujuan terlalu pagi belum ada warung rokok buka untuk memecahkan uang, akibatnya uang kembalian saya biarkan tanpa kerelaan — saya tidak dapat mengatakan saya relakan. Ongkos Rp30.000-an jadi Rp50.000.

Hal sama terulang jika istri saya memesan makanan ke Gofood dan sebangsanya via aplikasi tetapi membayar tunai. Si kurir belum tentu punya kembalian, bahkan pada malam hari. Pembayaran nirtunai untuk makanan, ojek, maupun taksi itu paling nyaman. Warung sayur dan warung rokok dekat saya pun mulai menggunakan QRIS. Demikian pula tukang es dan tukang siomay. Kios fotokopi juga.

Lalu? Saya belum menemukan jawaban apakah keengganan kita dengan uang kès keras karena nilai rupiah kita yang merosot sehingga pecahan uang terbesar pun, yakni Rp100.000, sering kali harus berlipat jumlahnya dalam dompet? Barangkali redenominasi sebagai niat memang perlu kita timbang untuk kita siapkan.

Tetapi nanti setelah redenominasi, jangan-jangan kita kadung termanjakan oleh transaksi nirtunai. Mungkinkah akan demikian? Padahal dalam redenominasi nanti koin akan sangat berharga, saya bayangkan sensasi anak menabung koin dalam celengan akan lebih terasa.

Entah ada hubungannya dengan jarang memegang uang tunai, atau karena faktor usia, saya kini tak hafal wajah pahlawan siapa saja dalam banknotes. Aneh juga bahasa Inggris menyebut uang kertas itu nota bank. Memang ada sejarahnya tetapi silakan Anda dari sendiri.

Warung sayur dan tukang es juga pakai QRIS — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan