Mengapa orang menyukai senja?

Setelah ada ponsel berkamera banyak orang mengabadikan senja, tanpa tahu untuk apa, lalu lupa.

▒ Lama baca < 1 menit

Senja merah dilihat dari pelataran Naga Swalayan, Jalan Hankam, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

“Langit merah,” saya bergumam kemarin senja saat keluar dari Naga Swalayan, Jalan Hankam, Pondokmelati, Kobek, Jabar. “Nggak nyampe sepuluh menit juga ilang,” saya melanjutkan.

Istri saya yang masih tertatih-tatih mempersilakan saya mengabdikan langit merah itu karena akan sebentar. Saya lepaskan dia, dan klik, klik, klik. Catatan waktu di ponsel menunjukkan pukul 18.27. Setelah mobil meninggalkan parkiran, tiga menit dari saat menjepret, langit merah itu pun usai.

Senja merah dilihat dari pelataran Naga Swalayan, Jalan Hankam, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Terhadap pertanyaan dalam judul, biarlah masing-masing dari Anda yang menjawabnya, mengapa saat pergantian siang menuju malam kadang terasa mengesankan. Begitu berharganya senja sehingga muncul dalam romantisasi, selain ada dalam lukisan juga disebut dalam lagu, puisi, dan cerpen. Dari “Senja di Batas Kota” (Wedhasmara, 1932–2017; lagu dipopulerkan oleh Erni Djohan) hingga Sepotong Senja untuk Pacarku (Seno Gumira Ajidarma, terbit pertama di Kompas, 1991).

Menyangkut foto senja, setelah ada ponsel berkamera maka banyak orang mengabadikannya. Tak semua dari mereka membagikannya kepada orang lain. Bahkan mungkin foto tersebut akhirnya dihapus atau dibiarkan nyungsep. Makna senja saat mereka memotret itu terlalu personal, pun bagi orang yang mendaku penikmat senja, namun setelah waktu makin jauh terjarak maka keterpukauan itu pun sirna karena masih ada senja lain yang akan hadir.

Senja merah dilihat dari pelataran Naga Swalayan, Jalan Hankam, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

2 Comments

@sandalian Jumat 6 Februari 2026 ~ 09.50 Reply

Kemarin sore, saya 3 kali melihat orang yang sedang berhenti di pinggir jalan untuk memotret ke arah matahari terbenam.

Pertama: dua ABG bermotor, kemudian penjual siomay, selanjutnya penjual bubur bermotor. Ketiganya tidak dalam satu tempat.

Pemilik Blog Jumat 6 Februari 2026 ~ 10.22 Reply

Nah! 😅
Njenengan ndak moto?

Tinggalkan Balasan