
Old wine in a new bottle. Isinya sih lama, tapi botolnya baru. Ini ungkapan sinis terhadap perubahan semu. Dalam politik, termasuk pemerintahan, hal itu kerap terbukti: 4L alias lu lagi, lu lagi. Bisa juga sistemnya, atau kebijakannya, seolah baru tapi cuma ganti nama. Ternyata tak hanya dalam pasal anggur, karena botol kecap di warung soto semarang di area saya pun demikian.
Merek kecapnya Mirama, bikinan Semarang. Enak. Saya cocok. Pas untuk soto ayam kedai itu. Mulanya saya heran saat mendapati label kecap lawas kusam di meja saya, namun tutupnya pernah tersegel.

Lalu saya tengok meja sebelah. Sama. Labelnya malah sudah terkelupas sebagian. Namun tata letaknya rapi, menarik untuk saya foto, seperti tempo hari saat saya memotret gelas plastik air minum.

Saya membatin, apakah pabrik kecap hanya mencuci botol namun tak melepaskan label? Saya tak tahu bagaimana cara umumnya pabrik kecap dan minuman yang masih menggunakan label kertas dalam mengganti label pada botol kaca. Pasti ada tekniknya. Kalau memakai cara kolektor label, melepas dengan hati-hati, antara lain direndam air hangat, pasti makan waktu. Label baru biasanya memuat kode produksi dan tanggal kedaluwarsa.
Tentang kecap kedai, saya punya contoh menarik. Mereknya Puas, merupakan house brand dari Nasi Uduk Zainal Fanani Kebon Kacang, Jakpus. Label selalu tak pernah tampak usang.

