
Pintar juga produsen klethikan PT Jaman Sehat Sempurna dari Jakarta, yang mengorder ke pabrik milik UD Sri Agung di Sukoharjo, Jateng, dalam mengemas pesan: “dapat dinikmati tanpa rasa bersalah”. Di tengah serbuan informasi pola hidup sehat, termasuk dalam asupan, pesan macam itu mengena. Mana ukuran keripik lebih kecil dari gambar dalam kemasan pula. Rasanya sih enak.
Memang dalam kantong tak disebutkan bahwa cassava atau singkong tidak mengandung gluten alami, sehingga dapat diasumsikan lebih sehat — tetapi ada garamya. Atribut “singkong lokal terbaik”, berarti bukan impor, memberi sugesti bahwa umbi-umbian yang itu lebih terawasi.

Lho, memangnya Indonesia mengimpor singkong? Ya. Tahun 2025 Indonesia mengimani 6.150.016 kg singkong, padahal pada 2023 601.253 kg, lalu pada 2024 5.548.759 kg.
Sedangkan impor tapioka (pati singkong) lebih banyak: tahun 2023, 26.211.449 kg, tahun 2024 jadi 300.190.041 kg, dan sepanjang 2025 hingga April 145.695.939 kg.

Kenapa impor? Menurut Wamen Pertanian Sudaryono, “Petani kita tanam yang gede-gede. Sementara kandungan dalam singkong yang besar tadi, kandungan (tapiokanya) itu persentasenya kecil.” (¬ CNBC Indonesia, 16/6/2025).
Sebelumnya, Mentan Amran Sulaiman bilang, “Jadi gini, biasanya yang punya pabrik, yang kami terima laporan, dia punya perkebunan di luar. Ini kirim masuk. Tentu lebih murah karena dia budidayakan sendiri.” (¬ Kumparan, 4/6/2025)

¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan

2 Comments
Kok menteri dan wamen jawabannya beda yak.. Saya pura-pura heran ah..
Suka-suka ndoro tuan, rakyat tahu apa? Pèk’ên kabèh Endonesah!