
Sudah dua puluh tahun kita terbiasa dengan tudung tombol angka ATM. Namun sungguh katro, saya masih merasa tak nyaman, bahkan terganggu. Memang sih tujuannya baik, untuk melindungi proses pencet memencet jari kita dari intipan.
Mulanya tudung itu adalah tambahan oleh pihak bank. Lalu untuk ATM baru tampaknya sudah dilekatkan oleh pemasok ATM — atau malah produsen.
Masalahnya adalah bukan hanya mata dan lensa pengintip yang terhalang, karena mata saya pun terhalang. Pernah beberapa kali keliru pencet.
Baiklah jika Anda bilang hanya saya yang bermasalah. Termasuk harus membungkuk padahal saya bukan pria jangkung. Nyatanya orang lain nyaman. Pun nyatanya memori motorik pada jari orang lain dapat bekerja dengan pas seperti orang mengetik pada kibor komputer, apalagi pada numeric keypad, dan tombol angka pada layar sentuh ponsel.
Untuk alat pembaca kartu (EDC, electronic data capture) di meja kasir, dengan maupun tanpa pelindung samping, sebenarnya bukan jaminan aman dari intipan. Namun etiket membatasi mata kasir untuk tak melihat saat kita memencet angka PIN. Masalahnya di atas meja kasir malah ada kamera CCTV.
Lalu untuk tudung tombol ATM adakah desain yang nyaman bagi pengguna seperti saya? Tudung dengan lubang pun masih merepotkan. Apakah semua transaksi elektronis harus memakai ponsel seperti QRIS? Tetapi pencetan jari kita juga bisa diintip.
Kalau semua otorisasi sepihak cukup dengan sidik jari, apakah aman saat kita dalam cengkeraman orang jahat? Eh, barangkali tudung berengsel adalah solusi. Atau dengan tudung yang bisa masuk keluar seperti baki CD. Pengguna punya opsi, memanfaatkannya atau tidak, dengan segala risikonya.
