
Entah kenapa saya tak tertarik mencicipi seblak. Mungkin karena cerita yang saya dapatkan adalah rasa pedasnya yang saya simpulkan untuk lidah sepatu. Pekan lalu di Jalan Pasar Kecapi, Pondokmelati, saya melihat poster warung seblak. Ternyata ada banyak varian rasa.
Manakah seblak yang enak tentu saya tak tahu. Saya lebih suka tahu gejrot di area pengungsian saya di Kalideres, Jakbar. Dengan catatan rasa pedasnya paling rendah, bahkan di bawahnya. Sayang harganya lebih mahal daripada tahu gejrot di area seblak Curt Cobain.
Ya, nama warung seblak mengingatkan saya kepada Kurt Cobain (1967–1994) dari Nirvana, yang mati muda, dan sosoknya menjadi legenda seperti Jim Morrison (1943–1971) dari The Doors.
Kata poster si penjual, seblaknya beneran worth it. Smells like the real seblak-seblak suwêng.

2 Comments
Lha…
Ternyata saya punya teman 🤭
belum pernah nyoba dan belum tertarik nyoba seblak juga, paman.. 😅