
Mungkin karena saya suka iseng, apalagi tak ada yang dapat saya lakukan, maka mata saya melihat jarum pentul pada kosen jendela penyekat lorong dekat lift itu dan ruang tunggu keluarga pasien di ICU rumah sakit.
Lalu klik. Dari arah lorong saya memotret jarum pentul, dengan latar belakang penjenguk menunggu giliran. Bukankah orang dilarang memotret apa pun di RS? Mohon maaf, apa yang jepret bukan jenis informasi sensitif.
Tentang keberadaan jarum pentul ini saya punya dua dugaan. Pertama: seseorang ingin membuangnya namun tak mendapatkan kotak sampah. Kedua: seseorang bukan ingin membuangnya, hanya ingin menaruh sementara di situ, tetapi kemudian lupa.
Untunglah, kalau boleh bilang demikian, jarum pentul tak ditaruh di atas sofa maupun apalagi tempat tidur. Waktu masih bocah, saya pernah meninggalkan jarum pentul di kasur sehingga mbakyu saya saat tidur tertusuk jarum itu.
Boleh tahu, di rumah Anda manakah yang lebih mungkin tersedia: peniti, jarum jahit, atau jarum pentul yang oleh orang Jawa disebut dom bundhêl?
Oh ya, saya tak tahu apa sebutan jarum pentul dalam setiap bahasa daerah. KBBI menyebutnya jarum pentol. Kata pentol mungkin menyerap dari bahasa Jawa: pênthol — dengan “t” tebal (retrofleks), seperti bahasa Bali.

2 Comments
saya punya ini, paman. tapi di sini banyak variasinya. bagian pentulnya bisa berbentuk macam-macam. yang saya punya berbentuk kupu-kupu pipih. jarum juga lebih panjang dan lebih tebal. ujung tidak seruncing jarum pentul di Indo..
saya beli ini di toko penyedia barang-barang murah dan serba-serbi, Woolworth
Wah menarik! 👍👏💐