Estetika sapu rumah tetangga

Menyebut suatu hal estetik itu butuh alasan filosofis. Lebih enak bilang nyeni atau artistik.

▒ Lama baca < 1 menit

Sapu warna-warni pada tembok samping sebuah rumah di Chandra Baru, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Perkara estetika bisa menjadi debat panjang. Jika menyangkut foto, saya pernah menuliskannya di blog iseng nan wagu ini. Maka untuk foto, yang saya foto Rabu 31 Desember 2025 lalu, pukul 17.56, ini akan muncul pertanyaan. Soal apa?

Jika foto ini dianggap estetis, apakah dalam kenyataan juga menimbulkan kesan yang sama? Saya sih lebih suka menyebutnya artistik. Tepatnya: ngartistik.

Bisa saja ada yang berpendapat, karena sapu berwarna cerah difoto saat hari mengarah gelap, maka hanya indah saat dibekukan, kemudian hasilnya dipajang di blog, dilihat oleh orang yang belum pernah melewati jalan di samping rumah tetangga saya itu, sehingga tampak nyeni.

Eh, panjang amat ya kalimat barusan: 41 kata, 271 karakter. Bisa jadi sih, antara foto dan kenyataan berbeda kesan artistik maupun estetiknya. Saya sering lewat sana, tetapi hari itu baru sadar ada sapu berwarna-warni tergantung pada tembok samping. Saya membatin, mungkin pemilik rumah membeli sapunya di warung sejauh 50 meter, milik tetangga.

Posting perihal sapu di Blogombal.com

2 Comments

Zam Jumat 9 Januari 2026 ~ 14.44 Reply

sapu ini sepertinya khas asia sekali. saya sulit banget nemu sapu model gini, terutama yang terbuat dari ijuk atau jerami. kalo ada yang bergagang panjang, lebih ke model sikat (bristle)..

Pemilik Blog Jumat 9 Januari 2026 ~ 23.58 Reply

Oh gitu ya?
Di Jerman pasti gak ada sapu lidi karena sapu nenek sihir beda 😁

Tinggalkan Balasan