Tegurlah dia kalau tak ramah

Setiap orang senang dan ingin beroleh keramahan, tapi belum tentu mau berlaku sama.

▒ Lama baca < 1 menit

Klinik dan apotek Djanti, Jatimakmur, Kobek, minta ditegur — Blogombal.com

Saya membayangkan dialog dalam cerita tahun 1960-an, atau malah 1950-an:

“Mengapakah Nona tak ramah dalam melajani saja?”

“Maaf Tuan, saja sudah berusaha ramah, namun Tuan menganggap masih bertjatjat.”

“Hendaknja Nona ingat dan tjamkan baik-baik, bahwa pembeli adalah radja. Sekali lagi, radjaaaaaa djaaa djaaaaa…!”

Tentu dalam versi bahasa sekarang pun hal itu tak perlu terjadi. Misalnya di apotek dan klinik di area saya yang memasang pengingat. Semoga pula ukuran keramahan kasir dan konsumen itu sama.

Pada kaca loket juga ada imbauan agar konsumen melaporkan kekecewaan pelayanan kepada sebuah nomor. Dalam era media sosial, keluhan terhadap pelayanan bisa menyebar. Bahkan keluhan via email pun bisa berbuntut hukuman. Ingat kasus Prita Mulyasari pada 2008–2009 sehingga menggerakkan Koin Keadilan yang kemudian dibukukan?

Buku koin keadilan Prita Mulyasari — Blogombal.com

2 Comments

Zam Minggu 4 Januari 2026 ~ 03.53 Reply

kalo di Berlin, “tidak ramah” udah biasa.. pembeli bukan raja yang selalu benar. sepertinya soal budaya.

sebuah jaringan waralaba supermarket besar dari Amerika Serikat bahkan gulung tikar, karena penerapan budaya agar karyawan “ramah, dengan memberi senyum dan sapa kepada konsumen” berakhir buruk. pekerja tidak mau, karena dianggap tidak penting.

akhirnya jaringan supermarket besar itu pun gulung tikar.. wkwkwk

Pemilik Blog Minggu 4 Januari 2026 ~ 13.24 Reply

Woooo…
Mungkin yang kita butuhkan keramahan yang wajar. Gak lebay karena motif bisnis.

Selain faktor kultural mungkin secara kasuistis bagi orang tertentu bisa ditenggang, seperti penjual makanan yang galak tapi laris karena dalam kegalakan dia ada unsur semanak.

Di area saya ada toko bangunan, orangnya nyengit, tapi laku

Tinggalkan Balasan