
Tahun 2026 ini topik akal imitasi menjadi topik harian ringan dengan cakupan pelaku perbincangan kian meluas. Kata a-i maupun é-ai enteng disebut, bahkan di pasar dan proyek bangunan rumah tinggal. Ada yang berbau kekaguman, dan ada pula kekesalan — terutama karena merasa terkecoh, apalagi kalau jalur nafkah terganggu.
Kemarin sore, sebelum pergantian tahun, dalam gerimis tipis saya lihat kotak sakelar PJU yang berbeda menggantikan bekas jeriken plastik oli. Ehm, kotak surat itu milik rumah yang memasang spanduk dijual.
Kotak surat adalah masa lalu. Setelah ada SMS, internet via web di PC, dan seterusnya, tak ada lagi surat via pos dan kurir, termasuk kertas tagihan telepon dan kartu kredit. Bahkan undangan resepsi pun sekarang berupa japri berisi tautan ke laman web untuk mengkonfirmasi rencana kehadiran kita.
Kotak surat adalah korban awal disrupsi karena teknologi digital. Banyak dari kita yang sudah lupa kotak itu. Di rumah saya masih berjejak, berupa kotak surat dalam tembok pagar. Kalau misalnya akan saya alihkan sebagai kotak paket harus membobok tembok. Dulu lebih sering surat dan koran atau majalah datang, kini lebih sering paket.


4 Comments
kalo saya, selalu deg-degan kalo membuka kotak surat.. biasanya kalo ada surat masuk, artinya ada anu-anu 😅
Waduh.
Kayak pesan via WA dan SMS dari nomor tak dikenal
Bagus ini, dialihfungsikan jadi nggak terbuang..
Betooollll. Menunda jadi sampah 😁