
Tanpa sengaja saya temukan pos di Instagram ini, usai saya membaca konten tentang bencana Sumatra. Tak ada hubungannya dengan bencana, sudah dipublikasikan Oktober lalu, tentang dunia jomlo. Eh, jomlo atau jomblo? Yang baku sih jomlo, itu istilah lawas namun setelah hidup lagi awal 2000-an menjadi jomblo. Lalu ada istilah jojoba: bukan tumbuhan untuk kosmetik melainkan jomblo-jomblo bahagia.
Inti soal: kaum jomlo selalu menarik untuk dibahas. Padahal tak semua kaum jomlo senang dibahas, kok seperti dianggap sebagai masalah. Media berita serius termasuk itu, blog wagu ini juga beberapa kali membahas dunia jomlo.
Rupanya kejombloan dianggap masalah. Tentu dengan catatan: hanya bagi jomlo yang menganggap hidup sendiri itu masalah yang harus diatasi. Maka ada ziarah dan kopdar jomlo Katolik. Akun di Instagram, yakni Pandangan Hidup, ternyata juga menulis hal itu di Kumparan.
Saya pernah mendengar bahwa kaum lajang dari kalangan minoritas, misalnya di kalangan Kristiani, cenderung lebih sulit memperoleh pasangan. Asumsi ini secara statistikal mungkin bisa diterima karena dalam populasi yang lebih kecil pilihan terhadap lawan jenis tidak luas.
Eh, tetapi bagaimana di wilayah di Indonesia tertentu dengan populasi Kristiani mayoritas? Bakal muncul sanggahan, kalau mayoritas cuma paling banyak dari sekian lainnya, tetapi tak sampai lebih dari 50 persen bagaimana? Pertanyaan yang sama untuk populasi penganut agama lainnya.

Saya tidak masuk lebih jauh ke tafsir tanpa pendalamn data karena perkawinan bukanlah breeding, teramat banyak dimensi di sana.
Akan tetapi saya lanjutkan sedikit, di kalangan Muslim yang mayoritas pun ada taaruf dengan tujuan menemukan jodoh. Artinya persoalan tidak dapat dipersempit menjadi sekadar jumlah pemeluk suatu agama di suatu area. Soal area geografis dapat diatasi dengan internet, bukan?

Ada beragam alasan mengapa seseorang tetap melajang. Mestinya alasan untuk menikah pun beragam. Tetapi karena perkawinan, yang disahkan dengan pernikahan, adalah arus utama maka kita terima apa adanya. Hanya saat terjadi perceraian maka orang lain ingin tahu alasannya — padahal penyebab utama perceraian adalah perkawinan. Dalam kurva lonceng, perkawinan ada di bagian tengah. Dianggap normal. Seperti orang harus bekerja agar beroleh nafkah.
Tadi saya sebut internet. Kompas pernah melakukan investigasi love scam, penipuan uang dengan jebakan asmara melalui perkenalan daring. Kebanyakan korbannya adalah perempuan, lajang maupun janda, tak hanya yang belia.
Tentu persoalannya bukan internet dan aneka platform, tetapi penjahat memanfaatkan peluang orang kesepian yang butuh pasangan, mungkin malah mengarah ke perkawinan. Ada juga penipu yang memainkan jurus agama. Ini sih terlalu.


2 Comments
berjayalah para jomlo, selalu ada jalan untuk berjumpa jomlomu …. postingan dan grafisnya maknyus Pakde, sehat selalu yaaa
Hola Pak Guru. Apa kabar?
Sering jadi makcomblang ya? 😁