Berdiang sekaligus beroleh penerang dalam bencana

Misalnya sebuah foto yang tampak natural adalah hasil AI, tetap saja akal imitasi dapat menguliti.

▒ Lama baca < 1 menit

Berdiang sekaligus beroleh penerang dalam bencana di Aceh — Blogombal.com

Saya terkesan oleh foto karya Adryan Yoga Paramadwya di Kompas (Rabu, 17/12/2025), yang menuturkan:

Warga menghangatkan diri dan mencari penerangan dengan api kayu bakar saat listrik padam di Kampung Asir-Asir Asia, Kecamatan Lut Tawar, Takengon, Aceh Tengah, Aceh, Senin (15/12/2025) malam. Akses menuju Takengon masih terputus, menyebabkan wilayah itu kekurangan logistik. Listrik kembali menyala pada Selasa (16/12).

Lut Tawar berada di Dataran Tinggi Gayo. Suhu sore dan malam hari bisa sampai 16° C. Tanpa menyadari konteks bahwa di sana terjadi bencana, foto yang menampilkan senyum beberapa wajah ini hanya kita serap sebuah citraan romantis api kecil dalam kehidupan modern.

Akan tetapi foto jurnalistik selalu menghadirkan konteks secara verbal berupa kapsi berisi berita dengan rumus 5W+1H. Kelak ketika sebagai arsip foto ini tak menerangkan latar keadaan, dia hanya menjadi gambar dengan aneka tafsir.

Bahkan karena AI terus berkembang, orang bisa bingung apakah ini hasil akal imitasi atau fotografi. Tetapi AI juga akan menguliti jika sebuah foto ternyata hasil mesin menjalani perintah sesuai kemauan manusia. Selebihnya adalah kesaksian manusia di sekitar produksi sebuah foto. Ada lagi landasan dasar: versi RAW atau JPEG asli sebuah foto. Misalnya foto dihasilkan oleh kamera analog berfilm, klise maupun slides adalah artefak kuat.

Bersyukurlah media berita yang selain mampu menghasilkan foto bagus juga sanggup mengelola arsip fotonya. Tetapi sampai kapan? Arsip foto media yang gulung tikar tak jelas rimbanya.

Nasib arsip foto media yang gulung tikar — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan