Memotret bencana: Sejumlah masalah kerja jurnalistik

Persoalannya bukan asal jeprat-jepret lalu tinggal mengabarkan. Ada pasal teknis dan etis.

▒ Lama baca 2 menit

Memotret bencana: Sejumlah masalah kerja jurnalistik

Bersyukurlah kepada fotografi ponsel, media sosial, dan internet. Karena kesaksian visual warga di lokasi bencanalah maka dunia di luar lokasi segera tahu bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar dengan segala akibatnya. Lalu masih tersisakah ruang bagi media berita untuk melaporkan secara in situ?

Dalam pos pekan lalu tentang lautan kayu di Aceh mengepung masjid, saya menulis:

Memotret bencana: Sejumlah masalah kerja jurnalistik

Masih meneruskan era pra-media sosial, itulah alasan kehadiran kantor berita dan agensi foto, agar tak setiap media mengirimkan orang ke lokasi jauh. Maka foto dan video yang kuat ihwal bencana Sumatra, selain dari media sosial, yang juga dari media kuat dan kantor berita, misalnya Antara, AFP, dan Reuters. Ada sih cara praktis namun kurang etis: media (yang menyebut diri) berita, yang dikerjakan setengah niat tinggal mengembat foto dan video karya siapa pun sonder atribusi.

Hari ini (16/12/2025), editor foto Kompas Iwan Setiyawan menulis dalam rubrik Klinik Foto, “Tantangan dan Etika Pewarta Foto Saat Bencana“. Intro tulisan sangat mengena:

Memahami karakteristik bencana, persiapan meliput yang baik, dan etika peliputan yang benar, seorang pewarta foto akan menjadi “mata” publik di lokasi bencana.

Inilah poin wigati Iwan:

  • Dengan memahami karakteristik bencana, seorang jurnalis bisa mengantisipasi berbagai hal di lapangan dan menghindari potensi bahaya yang bisa mengancam keselamatan diri sendiri
  • Fotografer harus mengantisipasi momen kunci, menyiapkan kameranya untuk menangkapnya, lalu menekan tombol pada detik yang tepat. Mereka tidak dapat memutar kembali waktu untuk menangkap kembali momen yang terlewat
  • Banjir bandang datang sekejap dengan volume yang besar, sedangkan banjir rob terjadi karena kenaikan air secara bertahap dan genangan bisa berlangsung berhari-hari
  • Seorang pewarta foto harus mengantisipasi semua kemungkinan terburuk di lokasi bencana. Persiapan peralatan liputan dan pengiriman berita harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan
  • Dalam bencana hebat, yang merusak banyak infrastruktur sehingga menghambat akses ke lokasi, pewarta foto harus merencanakan perjalanan dengan sekian alternatif
  • Pewarta foto Kompas yang meliput bencana di Sumatra harus menempuh berbagai cara untuk menembus ke lokasi bencana, mulai dari menumpang kendaraan yang menuju lokasi, menyewa kendaraan, hingga berjalan kaki berkilo-kilometer untuk bisa melaporkan visual terbaru dari lokasi bencana
  • Perlu dipikirkan juga kebutuhan logistik dan akomodasi selama liputan, karena di lokasi bencana tak mudah mendapatkan pasokan kebutuhan hidup sehari-hari
  • Kalau infrastruktur telekomunikasi di lokasi bencana rusak, sinyal internet dari BTS juga mati, sehingga internet via satelit diperlukan untuk mengirim foto dan video

Itu tadi dari sisi teknis peliputan yang menyangkut fasilitas dan kompetensi utama pewarta foto.

Adapun kompetensi lunaknya adalah kemampuan berkomunikasi antarmanusia dan etika. Iwan mengingatkan:

  • Pewarta foto harus menyadari, di lokasi bencana dia menempatkan diri sebagai jurnalis profesional, bukan untuk mengeksploitasi, melainkan sebagai perantara untuk menyebarkan informasi tentang bencana dan dampaknya kepada masyarakat luas
  • Pada saat awal atau setelah bencana, visual yang dibutuhkan adalah mengenai bencana itu dan dampaknya. Seberapa parah dan luas wilayah terdampak harus tergambarkan secara visual
  • Kemudian pewarta mencari visual yang lebih detail yang menggambarkan dampak bencana
  • Saat memotret korban bencana, pewarta foto harus bisa berempati kepada korban. Selain menghindari kesalahpahaman, pewarta foto juga bisa menjadi penyambung keinginan korban kepada pihak yang berwenang karena biasanya korban bencana kesulitan akses bantuan

Huh, repot amat urusan fotografi jurnalistik ya. Kenapa nggak pakai AI saja untuk gambar, selain asal mencomot foto dan video entah punya siapa dan tak jelas konteksnya? Barangkali demikian, maka bisnis media berita yang genah itu disebut mahal, apalagi tak cukup menggaji pekerja media pas banderol UMP.

Tinggalkan Balasan