Masjid dikepung lautan kayu gelondongan

Buat apa media berita menyajikan foto eksklusif kalau pembaca, bahkan media lain, tak peduli?

▒ Lama baca < 1 menit

Darul Mukhlishin di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh - Kompas — Blogombal.com

Banyak foto menyedihkan perihal bencana ekologis di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Jika menyangkut video, tak semuanya membuat saya tega melihatnya. Tetapi saya kesal terhadap video dramatis hasil AI. Dari anjing dan kucing mencari selamat dengan berenang sampai harimau hidup terhanyutkan air bah. Ada saja yang meneruskan video itu lalu berkilah, “Saya cuma nerusin dari grup sebelah.”

Dari sejumlah foto, terutama foto jurnalistik, ada yang mengesankan saya, karena memberikan pesan kuat untuk kita renungkan, yakni karya Totok Wijayanto di Kompas (Senin, 8/12/2025), dengan kapsi:

Kayu gelondongan menumpuk di kawasan Pondok Pesantren Darul Mukhlishin di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (6/12/2025). Kayu gelondongan tersebut terbawa saat Sungai Tamiang meluap, pekan lalu.

Media sosial menyajikan lebih banyak foto dan video sebagai kesaksian warga. Kadang informasi waktu dan tempat kurang jelas, tetapi ya itulah media sosial. Meskipun demikian untuk gambar tertentu selalu terbuka peluang klarifikasi dari warganet dan pihak lain yang relevan.

Darul Mukhlishin di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh - Kompas — Blogombal.com

Dalam era media sosial ini fotografi jurnalistik nan ekseklusif menjadi mewah. Dalam kasus bencana di Sumatra, dan tempat lain yang jauh dari redaksi, tak semua media berita sanggup mengirimkan pewarta foto ke lokasi.

Media di Jakarta jika harus mengirim pewarta foto ke lokasi bencana parah ke Sumatra harus menyiapkan biaya, termasuk uang tunai untuk orang lapangan. Alat semacam kamera drone juga masih mewah bagi umumnya media berita. Tetapi apakah konsumen berita peduli hak cipta foto berita? Pelaku bisnis berita saja ada yang tak peduli, apalagi pembaca.

4 Comments

mpokb Kamis 11 Desember 2025 ~ 23.53 Reply

Kayu sebegitu banyak, butuh banyak alat berat untuk membereskannya. Bisa nggak sih perusahaan yang terbukti membalak disuruh ikut beresin “karya” mereka?

Btw konten AI itu ngeselin, Bang Paman. Kalau muncul di YouTube kadang saya tandai “not interested” atau “don’t recommend” 🙁

Pemilik Blog Sabtu 13 Desember 2025 ~ 00.23 Reply

Mana peduli mereka karena mereka juga merasa sebagai korban, bukan korban masalah. 🤐

warm Kamis 11 Desember 2025 ~ 18.04 Reply

lama sekali tak berkunjung ke sini, tadi nyasar amalan karena baca kisah ttg paman yg terjerembab di got saat bersepeda. semoga sudah fit sampai sekarang, paman

Pemilik Blog Kamis 11 Desember 2025 ~ 21.17 Reply

Halo Warm!
Suwun sudah berkunjung.
Saya sudah baikan.
Njenengan masih suka gowes? 😇🙏

Tinggalkan Balasan