
Latihan SIM. Itu sama dengan latihan KTP, latihan STNK, latihan BPKB, latihan tempe, latihan batu, dan latihan semen. Kata benda bertemu kata benda. Latihan adalah hasil berlatih; adapun prosesnya, dengan bimbingan pelatih, disebut pelatihan. Ah, abaikan saja pelajaran bahasa Indonesia. Guru pun banyak yang kurang cakap dalam berbahasa.
Lebih utama orang paham bahwa maksud tulisan pada kaca belakang mobil itu adalah belajar mengemudi. Pengelola kursus ini langsung ke tujuan: belajar mengemudi agar lulus ujian SIM.
Ada juga yang bilang belajar setir maupun menyetir, yang dalam bahasa percakapan adalah belajar nyetir. Ketika saya masuk Jakarta, 1990, saya menyadari satu hal: latihan nyetir lebih lazim daripada belajar nyetir. Di Jateng dan DIY dulu, tulisan pada kaca belakang mobil kursus mengemudi adalah “belajar”.
Akan tetapi teks tambahan di Jakarta dan Jateng serta DIY sama. Yakni “jaga jarak” dan “awas rem mendadak”. Namanya juga belajar. Namanya juga latihan.
Oh ya, belajar renang maupun panahan itu berbeda dari latihan renang maupun panahan. Belajar itu dari tidak bisa menjadi bisa. Adapun latihan, maksud saya berlatih, adalah untuk orang yang sudah bisa suatu hal namun harus menjaga kebisaan bahkan meningkatkannya.
Sampai akhir 1990-an belum banyak mobil dengan transmisi otomatis. Tak semua model mobil dari setiap merek punya versi manual dan matik. Memasuki tahun 2000-an, mobil matik pun lazim sehingga kursus mengemudi memiliki kelas manual dan matik.
Kelebihan orang yang belajar dengan manual dan kemudian sekian lama memakai mobil manual, adalah juga dapat memakai matik. Tetapi orang yang belajar dengan matik belum tentu dapat menggunakan manual. Hal serupa tokoh Robert Langdon, jagoan dalam novel The Da Vinci Code (Dan Brown), tidak bisa menggunakan mobil manual.
Soal manual dan matik ini serupa orang yang biasa naik motor matik lalu mengendarai motor dengan kopling tangan, atau malah Vespa lawas yang kopling dan pemindahan giginya dilakukan dengan tangan kiri. Lalu, apakah hanya orang matik yang kagok dengan mobil, dan mungkin motor, manual?
Mungkin itu mitos. Orang yang sudah sepuluh tahun menggunakan mobil matik, padahal sebelumnya terampil menyetir mobil manual, tampak sedang belajar mengemudo ketika kembali ke manual. Keluar dari kompleks, harus berbelok padahal jalan raya ramai, dan ketika sampai di loket tol maka mesinnya mati. Begitu pula saat melewati gundukan polisi tidur. Dan tentu saat berhenti di tanjakan karena lalu lintas macet.
Saya tak tahu bagaimana orang yang belajar dengan mobil pintar, ada ADAS lengkap, yang mobilnya bisa mengepaskan posisi parkir mundur dengan mengandalkan komputer, sementara pengemudi lepas tangan, harus mengemudikan mobil manual lawas tanpa kamera belakang, tanpa sensor jarak, dan sekian “tanpa” lainnya.
Pemanjaan membuat orang malas, atau kagok, untuk kembali ke dasar. Dalam banyak hal saya termasuk itu. Karena saya memang pemalas. Setelah ada ponsel, mencatat di atas kertas pun enggan.



2 Comments
sampai sekarang saya sama sekali tak bisa dan takut mengendarai mobil metik, mengendarai motor metik juga baru setahunan terakhir ini rasanya
kalau soal tes SIM, saya pesimis duluan saat liat proses ujiannya, terlalu sulit bagi saya
Setiap orang punya kebisaan dan kebiasaan masing-masing, kan? 😇