
Wah, ada demo. Saya pikir begitu. Mungkin demo warga, bukan karyawan supermarket bahan bangunan karena mereka tak berseragam. Tadi baru pukul delapan lebih sedikit, saya tiba di toko untuk mencari keran dan selang inlet, saya lihat kerumunan di tempat yang saya sangka pintu utama. Oh, kemudian saya ingat. Pintu masuk keluar ada di ujung.
Di pintu masuk saya tanya satpamwan, ada kerumunan apa. Dia bilang itu antrean warga mengurus perpanjangan SIM. Bagus, pikir saya. Layanan keliling SIM harus dipertahankan dan diperluas. Demikian pula perpanjangan STNK yang bukan lima tahun sekali. Saya pernah membuktikan urusan SIM dan STNK cepat, bukan di kantor polisi maupun samsat.
Tetapi ada syarat: siapkan semua fotokopian. Di sebuah mal, saat memperpanjang STNK, saya pernah kerepotan mencari kios fotokopi. Akhirnya saya dapatkan studio foto. Mereka pindai kartu saya. Misalnya pindaian dicetak di atas kartu plastik akan seperti KTP asli.

Soal antrean ini, saya tak tahu apakah supermarket bangunan meminjamkan ataukah menyewakan ruang untuk sehari, beberapa bulan sekali. Kalau meminjamkan mungkin tak ada kewajiban menyediakan meja selain kursi. Lho, meja untuk apa? Untuk menulisi formulir. Meja lipat tinggi pun cukup. Namun para pengantre tampaknya tahu diri, tak memanfaatkan bagian atas tangki toren dagangan untuk alas menulis.
Ketiadaan meja tulis untuk meletakkan kertas dalam pengisian formulir pernah saya alami untuk beberapa urusan. Solusinya adalah mencari warung terdekat. Di sana juga bersua pengisi formulir. Anda pasti juga pernah kerepotan mencari meja.

2 Comments
Dahulu di kantor pos, yang kecil sekalipun, ada meja yang agak tinggi untuk menulis sambil berdiri. Di meja itu, selain ada alat tulis juga ada lem kanji untuk menempelkan perangko. Walaupun sebenarnya perangkonya bisa saja dijilat lantas ditempelkan ke amplop surat.
Sangat betooollll.
Di negeri lain, prangko dalam rol stiker.