
Pesan dalam awal kalimat kaus yang dikenakan seorang pria ini tentu harus dicerna dengan catatan. Kalau acara resminya adalah pengibaran bendera start maraton oleh presiden, atau oleh orang yang mewakili kalau dia dianggap ada dan layak, pastilah semua orang boleh mengenakan kaus. Tentu harus bercelana.

Bagaimana kalau resepsi pernikahan? Tergantung konsep acara dan dress code. Tetapi Lik Jun pernah menulis dalam komentar untuk sebuah pos di blog ini.
Kalau jagongnya sama istri, saya enggak berani berkaus😁 Kudu rapi, meski bukan baju batik.
Tapi dia tahu kalau saya jagongnya enggak sekalian/berdua, saya kadang pakai kaus. Dan dia biasa saja, tidak komentar apa-apa 😁
Baiklah, setiap orang punya selera dan kebiasaan. Perihal kaus dengan mengedepankan kalimat dalam bahasa Indonesia dan dijual bebas, seingat saya marak mulai awal 1990-an, dimulai oleh Dagadu Djokdja kemudian disusul oleh Joger, Bali.
Lalu kaus dengan gaya serupa, berlucu-lucu dengan teks maupun gambar yang bernuansa lokal pun bermunculan di pelbagai kota. Pada masa jayanya, kaus Dagadu dibajak di Yogyakarta. Saat Dagadu mengingatkan pentingnya hak cipta, balon besar promosinya di atap Malioboro Mall dengan senapan angin — entah oleh siapa.
Setelah teknik cetak DTG (direct to garment) untuk kaus muncul sekitar 2010, kaus sok lucu nan personal dengan beraneka pesan pun bermunculan, kadang tak dijual, dan dibikin cuma sehelai pun boleh.

Memang, saat itu juga ada kaus satuan dengan sablon konvensional, bukan cetak digital, namun harganya mahal, apalagi kalau jumlah warnanya banyak, dengan raster pula. Pembuatan bingkai cetaknya, yang disebut klise, itu merepotkan, padahal hanya untuk sehelai kaus.

Lalu pertanyaan kita, setelah ada kaus satuan nan personal, apakah kaus massal dengan tema jenaka masih diminati? Di kios-kios batik Jogja masih ada yang menjual. Biasanya dengan tema lokal, termasuk menggunakan bahasa Indonesia.
Apakah Anda termasuk pemilik kaus dengan teks lucu dalam bahasa Indonesia?


2 Comments
Sekarang, maksud saya sejak beberapa bulan lalu, saya tidak pernah berkaus oblong saat acara resmi jagong manten. Pekewuh, sudah tua, nanti dikira caper😁. Tapi sangat jarang juga pakai baju batik karena saya, maaf, tidak senang pakai baju batik.
Acara resmi lain, misal bersama beberapa kawan jurnalis bertemu wali kota, kadang saya tetap pakai kaus. Ben ketok mboys eh enom.😆
Memang mbois tenan Lik Jun ini.
Saya punya kemeja batik lengan panjang dua, dan itu pun pemberian panitia pengantin. 🫣
Saya lebih suka pake kemeja polos biasa atau jas sekalian. Tapi gak pake sneakers. Kalo ke luar kota repot, harus bawa setelan jas dan sepatu formal.