
Melihat pikap ini terparkir di halaman sebuah rumah saya langsung teringat pikap pengangkut kambing. Padahal belum tentu untuk mengangkut kambing. Bisa juga untuk mengangkut sayur dan ikan tawar hidup dalam drum maupun ikan laut segar dalam kotak kontainer. Ya, ini masalah persepsi.
Mini truck atau kei truck, lebih kecil daripada light truck, yang berupa bak terbuka, dengan dinding rendah kanan kiri belakang yang berengsel, adalah bagian dari ekonomi kita untuk distribusi barang. Nah, pikap dengan pagar tinggi cocok untuk mengangkut kambing agar mereka tak melompat keluar lalu masuk ke kebun orang dan menemukan jodoh.
07:21 Kecelakaan Pick Up bermuatan ikan terbalik di KM 40 Tol Jati Asih (arah ke Kampung Rambutan) & msh penanganan Polri. pic.twitter.com/RYue28zULN
— TMC Polda Metro Jaya (@TMCPoldaMetro) January 14, 2018
Di jalan tol, pikap pengangkut sayur sering terlihat tanpa orang di bak. Demikian pula pengangkut kambing dan ikan hidup dalam drum. Tetapi untuk pengangkut ikan laut segar dalam boks, dulu sering terlihat pikap pada dini hari, dari arah pasar ikan Muara Karang, Jakut, melaju di jalan tol dalam kota dan Jagorawi, yang juga ditumpangi dua tiga orang, yakni si pengulak. Mereka, ada juga ibu-ibu, duduk menghadap ke belakang. Saya ngeri melihatnya.
Di jalan tol Jagorawi, pikap sayur dengan muatan penuh sering terlihat melintas dari arah Bogor. Sebagian dari pikap itu punya kesamaan: memasang megafon pada mulut knalpot agar berderum lebih keras. Kenapa ya, lebih untuk memperlancar pembuangan emisi atau supaya menderu-deru bising karena dirasa keren?
