
Tempo hari, di sebuah pelataran kedai yang sedang dibangun, saya melihat onggokan batu putih besar di tengah rumpun pohon pisang. Setelah mendekat, saya menyimpulkan itu karang laut. Karena kurang yakin saya menanyakan hal itu kepada Rudy Ndobos via WhatsApp, dengan melampirkan foto jepretan saya.
Rudy memastikan itu terumbu karang. Dia seorang biolog yang dulu kerap ke lapangan, termasuk meriset ekologi laut. Dia juga seorang penyelam. Saya heran dan prihatin karang ini dibuat terdampar di pedalaman, kawasan Kobek dekat perbatasan Kabupaten Bogor, Jabar, apalagi dia.

Atas nama seni, ada saja orang mengambil biota laut sembarangan. Kata Rudy, karang sering dianggap benda mati, cuma batu, padahal itu hewan yang “rumahnya” mirip batu, mirip dengan kasus siput yang cangkangnya dikoleksi, siputnya dibunuh.
Pertumbuhan terumbu karang per tahun cuma satu sentimeter per tahun. Untuk menumbuhkan satu kilometer persegi terumbu karang, kata video majalah Bobo, butuh waktu sejuta tahun. Kenapa karang bisa sampai Kobek, Jabar, tentu tak perlu waktu lama.
Kebetulan pagi tadi saya membaca Kompas, ada sosok Nyong Tomia (37), penyelamat lingkungan laut di Wakatobi, Sultra. Dia dulu seorang nelayan yang suka menggunakan bom sehingga menghancurkan terumbu karang, sampai kemudian mendapatkan hidayah.
Oh, saya teringat Buce, yang menemani saya naik bukit di Taman Nasional Manusela, Seram, Maluku, setelah saya naik sampan bermotor dari Sawai, menyibak gerumbul bakau ke kaki bukit. Dia dulu penangkap burung untuk dijual, dan akhirnya menjadi pengawal habitat burung. Dia bercerita, entah benar atau tidak, pada masa anak-kanak dia pernah dicengkeram burung besar, dibawa terbang, lalu dijatuhkan ke semak belukar.


2 Comments
Ada juga yang hobi koleksi telur burung. Telurnya diambil lantas dilubangi untuk mengeluarkan isi telur dan lalu cangkang telur yang sudah kosong tadi dikoleksi buat dipamerkan ke teman-teman.
Saya waktu kecil pernah lihat macam itu. Telur kasuari