Urusan motor di gang sempit tergantung kecerdasan emosional

Tenggang rasa butuh EQ tetapi kalau tak resiprokal repot juga. Hasilnya adalah percekcokan.

▒ Lama baca 2 menit

Motor di labirin gang kujang, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Tadi malam, dari jarak agak jauh, setelah saya berbelok dengan berjalan kaki menyusuri labirin permukiman padat itu, saya melihat separuh badan motor melintang menutupi gang. Lalu terdengar suara motor datang dari balik tikungan, sorot lampunya menyapa tembok.

Dengan segera seorang bapak tua keluar dari rumah, berusaha memajukan motor, belum bisa sampai pol, yang penting motor yang dikendarai seorang perempuan itu bisa lewat. Urusan selesai. Dengan tegur sapa dan senyum. Masing-masing paham masalah.

Tatkala motor itu berserobok dengan saya, maka saya memiringkan badan, mepet ke tembok, sementara Mbak Pengendara memelankan motor, salah satu kakinya turun. Kami saling mengangguk dan tersenyum. Padahal tak saling kenal. Bersua pun belum pernah. Terhadap pria pemotor di labirin itu juga saya juga begitu.

Saya tahu, rumah yang motornya nongol separuh itu berteras sempit, terisi beberapa motor. Mungkin motor yang terakhir datang tak kebagian tempat kecuali posisi semua motor ditata ulang. Semua warga dan bukan warga paham masalahnya karena gang di sana memang sempit. Foto saya sudah menjelaskan suasana.

Tenggang rasa, empati, bersikap semanak, dan kesadaran untuk tak merugikan orang lain bisa mencegah pertengkaran. Itulah emotional quotient (EQ). Mudah kita ucapkan namun belum tentu mudah kita buktikan karena ada sisi yang terabaikan, yakni timbal balik atau resiprokal.

Kemarin teman saya, warga Pasar Minggu, Jaksel, mengeluhkan seorang tetangga yang carport-nya sudah terisi dua mobil namun empat mobil lainnya di jalan, menghalangi manuver mobil tetangga lain saat akan keluar dan masuk ke parkiran rumah masing-masing.

Si pelanggar tanpa adab itu berkukuh jalan adalah ruang untuk umum. Ujung-ujungnya adalah, “Lantas saya disuruh parkir di mana? Mestinya kita saling pengertian.” Solusi warga RT adalah memanggil mobil derek dishub.

Ucapan saya disuruh parkir di mana itu seperti kalimat sakti. Dia yang bermasalah, orang lain yang cari solusi. Sungguh mulia. Di depan kantor saya di Jalan Langsat, Kebayoran Baru, Jaksel, dulu juga begitu. Mobil tamu kafe dan penjemput murid SMA di Jalan Ahmad Dahlan memasuki gang-gang sekitar untuk parkir.

Dulu di Yogyakarta, pelataran rumah kami kadang dipakai memarkir mobil yang bertamu ke indekosan sebelah. Suatu kali adik saya yang tak tinggal di sana datang, mobilnya tidak bisa masuk. Mobil di belakang ikut menunggu.

Ibu saya yang sudah sepuh mendatangi pemarkir di ruang tamu rumah sebelah, memberi tahu bahwa mobil anaknya tidak bisa masuk. “Tolong ya, Mbak,” kata Ibu.

Jawab si pemilik mobil, “Bentar Bu, maaf ini ngobrolnya belum selesai.” Saya membayangkan bagaimana keluarga cewek itu dalam mengajarkan adab. Umumnya anak belajar dari yang dicontohkan orangtuanya.

Saya pernah bercerita di sini, seorang balita cucu tetangga menangis keras saat istri saya mengemudikan mobil menempuh jalan searah tanpa melawan arus. Anak itu takut dibawa ke tempat yang tak dikenalnya padahal dia bersama omanya.

Akhirnya Oma menjelaskan bahwa menantunya, ayah dari si gadis kecil itu, selalu membawa mobil melawan arah, karena mobil lain juga demikian. Mereka ingin memintas jarak. Padahal rambu searah sangat jelas. Dan celakanya polisi membiarkan. Mobil berpelat militer juga melawan arus di jalan itu.

Persoalan ini berbeda dari kasus motor di gang sempit tadi. Apakah Anda yakin pada 2045 dalam Indonesia Sentenial atau Seabad Indonesia, rakyatnya sudah maju karena penegakan hukum tak dipelesetkan dari law enforcement menjadi low enforcement?

Tinggalkan Balasan