
Kata orang, ikan uceng dan ikan wader itu berbeda. Namun saya tak dapat membedakan kedua jenis ikan kecil dari sungai itu, apalagi kalau sudah digoreng tepung. Saya hanya tahu rasanya gurih, enak. Pernah belasan tahun silam saya dan rombongan bloger Solo makan malam pecel lesehan di Ponorogo, Jatim, lauknya wader kali digoreng tanpa tepung. Hari ini saya lihat pagar wader goreng tepung dalam cepuk seharga Rp35.000.
Begitulah, banyak orang suka uceng dan wader. Sebagai hidangan di warung soto, uceng dan wader goreng mulai dikenal luas pada 1980-an. Sebagian orang, termasuk saudara saya, warga desa di Klaten, Jateng, ingat bahwa uceng dan wader dulu untuk pakan kucing.
Saya ingat, waktu masih bocah di Salatiga, Jateng, keluarga saya memiara kucing kampung, tinggalan dari orang Jerman yang kembali ke negerinya. Ibu saya mengempani si Burna, kucing itu, dengan wader yang direbus dalam kendil tanah liat. Si meong suka.
Ketika saya kelas lima SD, bersama adik saya dolan ke desa di pinggir Rawa Pening, ke rumah pedagang beras, Pak Ratman, diboncengkan pit lanang pengangkut beras. Makan siang di sana dengan ikan setelapak tangan bocah dan wader goreng. Oh, ternyata pakan kucing enak juga.
Benarkah wader kali terancam punah? Saya tak tahu jenis yang mana. Saya malah ingat pernah makan ikan kecil, tetapi kata si empunya kedai itu “ikan emas baby“. Tempo hari saya baca di Kompas, nelayan ikan tawar di Sri Lanka mengkhawatirkan invasi ikan gabus sebagai predator. Mungkin nasib ikan-ikan cilik sebangsa wader pun terancam punah. Saya ingat, pernah melihat seseorang menyerok ikan cere di got hitam untuk pakan gabus.

2 Comments
Kalau istilah ‘cetul’ (dilafalkan dengan huruf /ta/ ꦠ, bukan /tha/ ꦛ), belakangan saya baru tahu dipakai di dunia perbukuan, untuk singkatan ‘cetak ulang’. “Bukumu sudah cetul, belum?”
Cetak ulang = cetul 😂