Rumah di Jogja kian mahal, tak terjangkau wong lokal

Orang luar yang berduit menggoreng harga rumah dan tanah. Jogja sip untuk sekolahkan ani-ani?

▒ Lama baca < 1 menit

Rumah di Jogja kian mahal, tak terjangkau wong lokal — Blogombal.com

Judul pos ini kualitatif, bilang mahal tanpa menyebut harga. Memang. Saya juga malas mencari rujukan untuk contoh harga, daripada bikin kesal. Rumah di Jogja kini mahal, kian mahal, itulah obrolan dengan sejumlah teman di Jogja. Saya teringat hal itu saat bengong di lorong lantai dasar Patra Jasa, Jaksel, menuju lift, Ahad lalu. Ada iklan perumahan di Jogja, pada dinding dan pintu elevator.

Dari sejumlah rasan-rasan, beberapa orang Jogja menyebut harga makin meroket setelah booming bisnis batu bara. Orang luar beli rumah dan atau tanah di Jogja tanpa berpikir ulang. Harga langsung tergoreng. Namun sekali lagi, itu hanya rasan-rasan, tidak sahih.

Rumah di Jogja kian mahal, tak terjangkau wong lokal — Blogombal.com

Bisa juga pemborong properti itu orang Jogja yang sukses di Jakarta dan tempat lain. Seorang kawan saya, wong Yoja yang sealmamater dengan Rafael Alun di SMA, bilang si juragan punya banyak tanah di Jogja. Tetapi ini gibah, tidak akurat, jadi abaikanlah. Untuk gambaran yang agak jelas, sila baca antara lain arsip Liputan 6 (22/9/2025).

Beberapa bulan lalu saya semobil dengan seorang profesor PTN di Jogja, istrinya yang doktor di FKG, dan putrinya yang menamatkan S2 di Norwegia, mengobrolkan harga rumah. Orang berduit beli rumah untuk anaknya yang kuliah di Jogja, atau bikin rumah kos dan homestay, untuk disewakan, namun ada pula yang memilih menyewa untuk orang lain.

Rumah di Jogja kian mahal, tak terjangkau wong lokal — Blogombal.com

Untuk siapa? Ani-ani yang disekolahkan S2 di Jogja. Ada rumah kontrakan atau paling sering apartemen dan mobil CRV — entah kenapa mobil ini yang sering disebut kalau membahas ani-ani S2. Kalau cuma indekos bagus dan Brio, itu ani-ani cemen kata beberapa orang.

Ketika dalam mobil menuju ayam goreng Suharti tadi, dan membahas rumah untuk ani-ani, saya membatin hal lain: memuji para sponsor kuliah, yakni para bapak gula eh sugar daddy untuk memanjakan gula-gula.

View this post on Instagram

Lebih aman mengontrakkan rumah atau apartemen, bukan menampung ani-ani di salah satu properti miliknya, supaya setelah kuliah Neng Gulali usai, urusan juga usai. Pemilik properti sewaan yang akan mengusir penyewa.

Rumah di Jogja kian mahal, tak terjangkau wong lokal — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan