
Tak ada yang aneh. Sudah jamak. Sering saya melihatnya. Tak hanya di meja kasir warung Padang itu: kalkulator terbungkus plastik. Tetapi tadi siang saat mengantre, dan mata saya terjerat kalkulator, lamunan saya mundur jauh ke masa SMA pada abad lalu.
Sebagian teman saya membawa kalkulator, dan memang diizinkan untuk pelajaran tata buku. Saya tak pernah membawa karena tak punya, dan tak ingin punya; saya tak menyukai hitung dagang dan tata buku.
Tentang kalkulator kawan-kawan, jika pemiliknya berlatar keluarga pemilik toko hampir semuanya terlapisi plastik. Mereka paham bahwa sebagai alat kerja yang selalu disentuh jari pasti mudah kotor. Dalam barang lain juga ada keluarga pedagang yang menyukai lapisan plastik. Misalnya stereo set, berupa tape deck, equalizer, dan amplifier. Plastik dari pabrik dipertahankan. Kalau pun kadung terkelupas akan mereka timpa dengan plastik baru.
Saya tak tahu mengapa kurang menyukai. Padahal plastik bagus untuk menjaga kemulusan barang. Kadang saya iseng melihat lapak jualan audio bekas di lokapasar. Ada tape deck dan CD player, juga amplifier, yang masih mulus padahal sudah sepuluh tahun lebih. Mungkin karena plastik. Tetapi bisa juga karena pengoperasian dengan remote controller, kecuali untuk tape deck.
Dari barang elektronik bekas, hampir semuanya tanpa menyertakan remote controller. Saya menduga stik bertombol itu, misalnya pun dibungkus plastik, sudah cècèl bahkan rusak.

