
Mendapati motor trail mini dan sepeda BMX di teras warung gudeg Bu Prapto, saya membayangkan diri sebagai ABG ditawari pilih yang mana. Tentu akan saya jawab memilih keduanya. Kalau harus memilih salah satu, akan saya jawab memilih trail mini. Kenapa?
Kalau saya masih bocah pasti saya hanya mikir gaya kemlimthi mbagusi. Tak mau tahu bahwa naik motor di jalan umum harus punya SIM. Helm saya sebagai anak SMP pasti sesak karena kepala membesar berkali lipat akibat bangga naik trail ke sekolah untuk kegiatan sore.
Dalam usia sekarang, kalau saya ditawari trail biasa, baru pula, dan sepeda MTB karbon maupun sepeda lipat, tentu akan menolak. Untuk trail saya harus belajar lagi naik motor transmisi pedal dengan kopling tangan, padahal untuk sepeda harus menunggu saraf keseimbangan saya pulih lagi. Inti masalah: saya tidak bisa dan tidak berani. Kalau naik trail elektrik Tromox MC10? Juga tak berani.
Maka saya geli dan gumun melihat video Den Dimas dalam kanalnya di YouTube belajar naik EUC dari cewek cantik Shazqia Adinda. Anak itu membuat saya kagum, seperti saya melihat lady biker Angela Lorenza — memang banyak bikers cewek, tapi gaya ibu muda penunggang Yamaha R6 600 cc itu komunikatif di jalan dalam berkonten. Kalau Shazqia bilang pernah long ride dari Bogor hingga Jakarta Utara.
Misalnya tak ada masalah saraf, dan lebih penting lagi punya nyali, saya kadung menghakimi diri takkan dapat terampil naik electric unicycle (EUC) — dengan catatan kalau saya mampu membeli mainan seharga Kawasaki Ninja 250 cc itu. Mungkin kalau saya saat remaja bisa bersepatu roda, inline skate, skateboard, dan ice skating, bisa menjadi bekal.
Tentang EUC saya belum mencari tahu apakah itu termasuk kendaraan untuk jalan umum yang diakui oleh dinas perhubungan dan polisi lalu lintas. Bukankah ATV empat roda tak diperbolehkan untuk dipakai di jalan umum karena tak punya pelat nomor?
Di sisi lain, melihat video rombongan pengendara EUC blusukan kampung dengan gang sempit berkelok di perbukitan, saya ngeri karena takut akan menabrak anak dan kakek nenek. Yang aman bagi saya memang jalan kaki. Murah, sesuai usia.

8 Comments
Saya lebih suka berjalan kaki, namun tidak bisa menahan diri untuk tidak membayangkan serunya naik motor trail mini.
BTW sudah lebih dari sepekan saya nulis tentang trail tapi macet sampai paragraf dua.😁🙈
Tulisan seorang penggemar trail, meskipun bukan crosser, pasti lebih hidup daripada seorang penonton kendaraan seperti saya 😇
Akhirnya konten trail saya kelar juga 😁 setelah sekian lama🙈
https://juniantosetyadi.wordpress.com/2026/01/21/trail-robot-di-gang-kecil-buntu/
👏👍😇💐
Akhirnya…
Rodanya cuma 1 tapi harganya mahal, hehehe
Kalo rodanya dilebihin bakal lebih mahal 😂🫣